• Senin, 06 Juli 2020


    Sejak saat kamu putuskan untuk pergi, aku selalu terbangun dengan perasaan yang sama. Terbangun dengan sebuah perasaan yang menyubit hati, perih sekali. Sebuah ingatan bahwa "Hari ini, aku sudah tidak bersamamu lagi" 

    "Aduh kenapa sih kita harus olahraga?" ocehan itu sudah keluar dari mulut Anna mengawali pagi hari yang cerah di kota yang sejuk itu.

    "Na, ini masih pagi buat ngeluh tau" ucap sahabatnya, Diva

    "Tapi ini kita harus banget apa olahraga nya di depan gymnasium? Kan jauh dari fakultas kita, harus jalan dulu"

    "Tau ni lagian pake nanya kenapa harus olahraga, lagian lo mau kalo tulang lo ga sehat karena ga olahraga? Lo mau baru lulus kuliah udah macem nenek gayung? nggak kan?" sambar Wintang

    "Apasih ngegas mulu mba helow, kan gue bilang ini jauh Wintang!"

    "Ya namanya juga mau olahraga, jadi harus di tempat nya Anna, lo kira bisa olahraga di lab bahasa?"

    Pagi itu mereka berjalan bersama menuju sebuah taman didepan gymnasium kampus mereka. Terdapat sebuah taman yang sering dipakai orang-orang untuk berolahraga di hari libur seperti ini. Udara sekitar yang sangat asri karena banyak pohon yang rimbun menambah nyaman nya tempat itu sebagai tempat olahraga.

    Ketiga sahabat itu berolahraga sebagaimana orang lain menghabiskan waktu ditempat itu. Hanya butuh waktu 15 untuk mereka berkeringat dan kelelahan, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dibawah pohon yang rindang.

    "Heyyy orang macam apa kalian olahraga gak bawa minum hah?" teriak Anna ketika sadar tak ada satupun diantara mereka yang membawa minum

    "Div lo jawab dah tuh, ga ada tenaga buat jawab dia gue" ucap Wintang yang masih kelelahan pada Diva

    "Lupa kita juga. Na bentar ya jangan dulu ngomel cape ini"

    "Ok sorry" jawab Anna tenang melihat kedua sahabat nya masih terengah engah kelelahan.

    Matahari yang mulai bersinar terik tak mampu menyapa langsung kulit ketiga perempuan ini. Rupanya pohon rindang itu melindungi mereka dengan sangat baik. Setiap udara yang dikeluarkan para manusia dan pohon itu terus bertukar dan saling memberi satu sama lain. Kehausan mereka tidak terlalu terasa karena alam mengalihkannya.

    "Misi, abis olahraga penting banget loh minum" suara itu terdengar dari balik pohon dibelakang ketiga perempuan itu yang sontak membuat mereka menoleh

    "Woy siapa tuh?" Anna reflek berbicara

    "Eh maaf ngagetin Teteh Teteh sekalian"

    "Maaf?" ucap Diva bingung

    Wintang yang tak asing dengan sesosok lelaki yang ia temui dua hari yang lalu di toko buku itu hanya tertawa kecil.

    "Kayaknya temennya ini belom kenalin saya ke kalian ya?" ucap Alfa sambil menunjuk Wintang

    "Loh, Tang. Lo kenal dia?" tanya Anna bingung

    "Haha iya gue kenal, dia Alfa anak Ilmu Keolahragaan. Eh Alfa, lagian kenapa juga gue harus kenalin lo ke mereka dih" jelas Wintang

    "Ya kan biar gue nambah temennya banyak, Tang"

    "Yaudah buruan kenalan. Tega bikin orang bingung lo ya masa nyapa orang yang gak kenal gitu" omel Witang

    "Ohiya kenalin gue Alfa, temen baru nya Wintang. Tadi gue liat kalian abis olahraga tapi gak bawa minum. Mmm karena gue kenal Wintang dan kalian pasti temen deketnya jadi gue bawain nih minum" lelaki berbadan atletis itu memberikan 3 botol air mineral

    "Eh gausah repot-repot dong, Fa" ucap Diva merasa kurang enak

    "Gapapa, anggap aja ini tugas gue buat ngingetin orang yang olahraga. Sekalian tanda kenalan"

    "Yaudah makasih loh ya" ucap Diva lagi

    "Oke sama-sama, btw gue ga bisa lama ya temen-temen. Harus latihan, jadi gue pergi duluan ya, bye" lelaki itu pergi meninggalkan Wintang dan sahabat-sahabatnya disana.

    Menyisakan Anna dan Diva yang masih sedikit kebingungan, karena tidak biasanya orang asing memberi mereka sesuatu. Lebih kaget lagi kenapa salah satu sahabatnya ini mengenal orang itu, sedangkan mereka belum.

    Air yang mereka genggam masing-masing pun diminum, sembari kembali duduk Wintang sudah tau pasti sahabatnya ini akan mengintrogasi dia. Lagi pula dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba Alfa muncul dihadapan mereka. Wintang kira setelah pertemuan dan cerita tentang ruang angkasa hari itu adalah pertemuan yang tak akan ada lagi temu, mengingat setelah mengobrol mereka langsung pulang masing-masing.

    "Jadi dia itu siapa Wintang? Maen rahasia-rahasiaan lo hah?" Anna yang memulai pertanyaan

    "Pala mu rahasia, gue cuma kenal orang itu doang udah"

    "Kenal darimana? Kan fakultas bahasa sama olahraga jauhan"

    "Emang nya lo yang maen nya di fakultas doang. Gue ketemu dia di toko buku"

    "Terus terus?" tanya Diva

    "Ya ga terus terus, kenalan, ngobrol, udah"

    "Lah gitu doang?" ucap Anna

    "Ya terus harus gimana ih? Muka lo kecewa bener"

    "Tapi dia baik banget ini sampe ngasih air" kata Anna

    "Nah iya bener" tambah Diva

    "Cuy jadi gini, dia anak olahraga, dia tau apa apa soal olahraga termasuk orang kudu minum kalo abis olahraga, nah dia liat kita yang Cuma duduk karena gak bawa minum, daripada dia jadi saksi kasus 3 orang perempuan dehidrasi karena kebodohannya berolahraga tidak membawa minum, jadi dia kasih ini. Anak olahraga lain yang baik hati juga bakal gitu kok" jelas Wintang

    Diva tertawa kecil mendengar penjelasan sahabatnya itu, sedangkan Anna justru gemas mendengarnya. Keringat mereka sudah mulai kering, dahaga nya pun terobati oleh air mineral pemberian Alfa. Obrolan dan tawa yang mereka ciptakan satu sama lain membuat pohon rindang ikut tersenyum.

    "Eh, Tang. Kepikiran lo sama Alfa bakal kenal jauh gak?" tanya Diva yang tiba-tiba membahas topik mengenai Alfa lagi

    "Ya gatau, Div. Biar ngalir aja kayak pertemuan sama pertemanan biasanya"

    "Tapi, Tang. Lo gamau apa buka hati buat ngebiarin lelaki masuk?" tanya Anna, percakapan ini mulai tak disukai Wintang

    "Kok jadi kesana ya?" tanya Wintang

    "Ngga, Tang. Maksud gue, biar lo ga terus-terusan keganggu sama masa lalu lo"

    "Na, Div gak ada yang ganggu gue kok. Apapun itu. Dan kenapa gue harus biarin orang lain masuk? Gue gak punya alesan buat itu."

    "Tapi kan..."

    Diva langsung memegang tangan Anna tanda meminta Anna untuk tidak melanjutkan percakapan itu.

    "Gapapa, Tang. Semoga kita cukup buat lo ucap" Diva lembut

    "Kalian emang cukup buat gue, jadi jangan bicarain itu lagi ya" pintanya tenang.

    Anna dan Diva mengangguk tanda mengerti

    "Udah siang juga, kayanya gue harus pulang guys ada yang harus gue kerjain. Gue duluan ya"

    Perempuan berambut pendek itu pergi meninggalkan sahabatnya, tak lupa dengan senyuman yang selalu ia berikan.

    "Div, gue salah ya?"

    "Nggak kok, Na. Wintang yang belum siap, gausah kita dorong-dorong juga sekalipun itu karena kita mau dia bahagia"

    ***

    Kamar sederhana bercat putih dan polos itu merupakan tempat ternyaman bagi Wintang. Disana semua perjalanan di kampusnya itu bermula, disana pula ia dapat bersistirahat dari berbagai hal yang ia lalui setiap hari. Dinding-dinding itu bahkan menjadi teman yang selalu mengetahui apa yang ia ucapkan, kecuali hal-hal yang hanya berputar dikepalanya.

    Tentu saja merebahkan diri adalah hal terenak yang dilakukan seusai olahraga. Siang itu matahari semakin menantang, tapi didalam kamar justru semuanya terasa cukup. Sinar matahari itu sangat cukup menemaninya saat membuka matanya dikala siang. 

    Perempuan itu menjatuhkan dirinya ke kasur, menatap langit-langit putih yang ada di hadapannya. Padahal ia tahu, berdiam diri seperti itu bukanlah hal baik bagi pikirannya. Mengistirahatkan fisiknya hanya akan memicu pikirannya terbangun, yang tak baiknya adalah semua pikiran itu muncul bahkan hingga pikiran yang tak seharusnya dipikirkan lagi.

    Kenapa mereka sering menyuruhku membuka hati? Apakah harus? Untuk apa? Untuk menyambut luka baru kah? Ingin rasanya aku mengadu pada kamu. Hei, orang-orang menyruhku membuka hati, mereka tidak tau kalau hati ku sudah kamu bawa. Mereka sering bilang agar aku sembuh dari masa lalu, mereka tidak tau bahwa obat bagi ku cuma kamu.

    Apa kamu tau? Aku benci setiap perasaan dikala pagi menyapa, perasaan yang datang setiap aku bangun dari tidur ku. Sebuah perasaan yang tak kunjung usai, sakit sekali rasanya menyadari bahwa kamu sudah tidak lagi untuk ku. Dan itu terus terjadi hampir setiap pagi. Padahal dunia kita masih sama, tapi sekat antara kita kini bagai jarak antara bintang dengan bintang lainnya. Sudah taun ke berapa ini? Tapi duka ku masih saja sama.

    Perempuan itu memilih untuk memendam lukanya, berfikir bahwa biar saja sperti ini. Lamunan yang hadir pada dirinya selalu saja mengasilkan air mata. Hanya menulis yang mampu menjadi pereda sakitnya untuk sementara. Mempublish nya dalam sebuah blog, berharap seseorang di sebrang sana membaca dan tahu akan pesan-pesan perihal rasa, luka, hingga rindu itu terarah padanya.

    "Sampe kapan gue jadi orang cupu kayak gini?" ucapnya sembari menyenderkan dirinya pada salah satu dinding kamarnya setelah ia mempublish tulisan nya itu ke blog miliknya. Wintang selalu berfikir bahwa dia terlalu cupu untuk menyampaikan pesan ini secara langsung. Pikirannya berbicara kembali, kini hanya sambil menatap atap kamar dengan sisa air mata yang sudah disekatnya.

    Apa justru kamu sudah tau semua pesan ku? Hanya karena kamu sudah tidak peduli jadi semuanya tak mengahsilkan apapun?

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Alpha Centauris - Powered by Blogger - Designed by Edogawa -