Archive for Juli 2020
Aku masih mampu bertahan disini dan baik-baik saja. Bahkan aku tak pernah melupakan pesan dari mu. Kamu benar perihal mengobati orang lain adalah salah satu cara terbaik mengobati diri sendiri juga. Tapi apakah kamu tau? Aku rasa ada yang salah, hal-hal yang aku katakan kepada orang lain tak mampu menembus relungku untuk mengobati luka ku sendiri. Semua peyembuhan yang aku rasakan hanya bagai pereda sakit sementara.
"Ya lagian lo lemah ah, lo kan cowok Angga!"
Siang itu saat mata kuliah belum dimulai, suara Anna sudah terdengar paling keras diantara obrolan mahasiswa lainnya yang ada di kelas. Padahal dia bukan sedang berbicara dengan seseorang yang jaraknya jauh, tapi suaranya yang khas itu keras hingga mampu terdengar oleh Wintang yang saat itu berada disalah satu sisi kelas.
Wintang menengok ke arah suara itu berasal, dia melihat sahabatnya dengan tingkahnya yang seperti biasa susah sekali lembut kepada orang lain. Kali ini seorang teman lelaki di kelasnya bernama Angga yang sedang Anna 'semprot'. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Tentunya perempuan itu berjalan mengahmpiri kebisingan itu.
"Angga maaf ya, Anna nya lepas dari pengawasan gue" gurau Wintang sambil mengambil kursi untuk duduk di depan Anna dan Angga
"Sembaranga lo, emangnya gue apaan?" protes Anna tak terima
"Tau nih gue malah tambah pusing denger dia" lelaki itu mengadu pada Wintang
"Yee pan lo yang cerita. Dah ah gue emang ga bisa sabar kalo denger orang cerita. Syukur deh lo dateng, Tang. Gue mau pindah aja, bye!" Anna meninggalkan Wintang dan Angga di deretan bangku belakang itu.
"Emang gitu dia haha, maafin ya" ucap Wintang
"Iya Tang santai kita kan emang faham dia gimana haha"
"Emang ada apa, Ga? Lo baik-baik aja?"
"Tang, apa salah ya kalo setelah 5 bulan ini cewek gue ninggalin gue tapi gue masih aja sedih-sedihan?"
Perempuan itu diam sejenak, batin nya terasa ikut terpukul. Dia berusaha tenang dan memberi energi positif bagi seorang lelaki di hadapannya ini yang belum mampu melupakan seseorang yang dicintainya.
"Angga, gapapa" ucapnya lembut dengan senyum manis melekuk di bibirnya
"Tapi orang bilang gue bodoh, Tang"
"Lo ga bodoh, sama sekali nggak. Kenapa dengan belum bisa mengikhlaskan harus jadi bodoh? Kita kehilangan orang yang kita sayangin, dan gak ada sebuah kehilangan yang bakal kerasa baik-baik aja."
"Ternyata ini yang pengen gue denger dari orang lain Babe, thanks Tang udah mau ngerti"
"Kadang kita cuma butuh sebuah pengakuan, Ga. Akui bahwa kita masih sakit dan itu gapapa, biarin rasa sakit itu selesai di hati lo. Kalo udah selesai, itu bakal ilang sendirinya. Pelan-pelan aja"
"Bener juga ya, ga kerasa gue selama ini selalu nyangkal karena orang selalu bilang gue harus banget move on"
"Haha gapapa wajar, orang kan buka kita. Cara orang lain juga beda, mereka gamau lo terus-terusan sedih aja. Udah ah bentar lagi dosen masuk nih"
"Ok, besok gue telaktir es krim deh, Tang"
Perempuan itu hanya memberi senyum hangat nya dan kembali duduk ke tempatnya di jajaran bangku paling depan. Pikirannya terusik, untuk kesekian kalinya ia mendapati perasaan yang lega karena seseorang telah membaik. Tapi di waktu yang sama dia malu terhadap dirinya sendiri. Apa gue pantes ngeyakinin orang lain bahwa sebuah luka bakal ilang sendirinya, sedangkan gue yang selama ini nyoba pun belum pernah berhasil.
***
Masuk jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini memang menjadi pilihan Wintang sedari duduk di kelas 12. Merupakan waktu yang cukup mendadak mungkin, tapi semenjak dia senang merangkai kata yang indah, dia jatuh cinta dengan bahasa dan sastra negaranya ini.
Melewati waktu dikelas dengan berbagai pelajaran tentang bahasa dan sastra adalah waktu yang disenangi Wintang. Waktu disaat-saat seperti itu selalu terasa cepat baginya, memulai pelajaran dan selesai begitu saja.
"Tang, hari ini gue sama Diva harus ke toko kue buat ambil pesenan ibu gue, lo gapapa kan?" tanya Anna seusai jam mata kuliah berakhir
"Tega lo gak ajak gue" mukanya memelas.
"Ya masa mau bonceng tiga, Tang"
"Ih ayo bonceng tiga aja"
"Gak, gak, gak"
"Hari ini doang kok, Tang." timpal Diva
"MAU BONCENG TIGA!!" Wintang mulai memasang wajah marah
"Dih, sakit ni orang" ucap Anna
Diva hanya tertawa melihat keadaan tersebut
"Yaudah, mau lo aja yang pergi sama Anna? Biar gue yang gak ikut. Mau?" Diva menawarkan
Wintang lebih tidak tega kalu Diva yang tidak ikut, lagi pula terlalu beresiko jika Wintang berduaan dengan Anna dan tidak ada Diva. Bisa-bisa mereka berdebat sampai lupa waktu.
"Eh nggak deh, lo aja yang ikut Div."
"Tapi jangan marahan yaaa" goda Diva
"Ya nggak lah kenapa harus marah haha. Udah sana berangkat tar keburu sore"
"Ya lo kan yang menghambat Wintang wanting" ledek Anna
"Heh nama gue!"
"Apa? Apa hah?"
Diva segera menarik perlahan tangan Anna untuk diajaknya pergi untuk menghindari perdebatan lebih lanjut. Tawanya tak bisa ia tahan setiap kali melihat kelakuan dua sahabatnya. Sedangkan Wintang sangat lesu ditinggal oleh Anna dan Diva hari itu.
Wintang keluar kelasnya dengan menata semangatnya itu. Belum lebih dari 2 meter ia meninggalkan kelas, terlihat seorang lelaki yang sepertinya kebingungan di Fakultas Bahasa dan Sastra itu. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat lelaki itu sangat mencolok ketika berada ditempat yang sedang tidak banyak orang itu. Nampaknya lelaki yang tak asing bagi Wintang,
"Lah Alfa?" perempuan itu lagi-lagi bertemu dengan Alfa
Dari kejauhan ternyata Alfa menyadari keberadaan Wintang, wajahnya kegirangan dan berlari kecil menghampiri Wintang sambil melambai.
"Lah, dia ke gue?" Wintang malah bingung.
Alfa menghentikan langkahnya tepat didepan Wintang.
"Hai Wintang"
"Hai, lo kok ada disini, Fa?"
"Gue tadi ada ngumpulin tugas, dosennya di fakultas ini"
"Oh pentesan. Terus tadi kenapa kayak orang linglung? Haha"
"Ya karena gue belom tau wilayah sini lah, ini gedung kayak muter-muter"
Perempuan itu tertawa kecil mendengar ucapan lelaki yang berdiri dihadapannya
"Yang muter-muter tu lo, bukan gedungnya"
"Tapi gue inget gue punya temen anak bahasa jadi gue sekalian nyari lo deh"
"Wah inget juga sama gue ya"
"Iya dong, soalnya gue mau minta bantuan lo"
"Inget karena mau minta bantuan nih?"
"Hehe ya ngga dong, Tang. Mau ya bantuin gue"
"Bantuin apa?"
"Ada deh, tapi harus ditoko buku. Kayaknya enak buat nugas"
Perempuan itu memang jarang bisa menolak untuk dimintai bantuan, apalagi jika mendegar harus ke toko buku itu.
"Nanti gue kasih milk tea" ucap Alfa
Toko buku dan milk tea adalah dua hal yang Wintang senangi, bagaimana dia mampu menolak kalo seperti itu.
"Gasss" jawab Wintang semangat
Keduanya langsung menuju toko buku yang mereka sukai itu. Wintang menyukai toko buku itu karena dia memang senang membaca. Dia pun menyukai aroma-aroma buku yang ada ditoko. Ditambah dengan sebuah tempat yang tersedia untuk menghabiskan waktu utnuk membaca, atau mengerjakan tugas, dengan pemandangan yang indah.
Sedangkan Alfa menyukai toko buku dan tempat membaca itu karena menurutnya tempat itu tenang dan sangat nyaman.
Hanya butuh waktu 10 menit bagi Alfa dan Wintang menempuh perjalanan dengan motor Alfa itu. Keduanya langsung memasuki toko buku. Wintang langsung menuju ke lantai dua tempat mereka akan menghabiskan waktu. Sedangkan Alfa mencari buku yang akan ia butuhkan.
"Sekalian nunggu dan bantu Alfa gue mungkin bisa ngerjain projek ini walaupun dikit" gumam Wintang sambil membuka laptopnya
Setelah lima menit menunggu Alfa pun menghampiri Wintang dengan beberapa buku yang dia bawa.
"Nah ini dia, Tang"
"Jadi lo mau minta bantuan apa?"
"Bantuin gue bikin essai yang sempurna. Gue pengen ikut lomba"
"Kan di pedoman ada, Fa"
"Gue ga bisa belajar lewat gituan"
Wintang hanya menggelengkan kepalanya. Alfa yang berdiri disamping Wintang menyimpan buku-bukunya ke meja.
Tak sengaja Alfa melirik ke layar laptop perempuan itu. Tertulis sebuah tulisan besar di monitornya, sebuah judul yang menarik perhatiannya.
"Wuih lo lagi bikin projek?"
Wintang hanya mengankat halisnya tanda iya.
"Bentar deh, soul reunion itu artinya reuni jiwa kan?" tanya lelaki itu yang melihat judul besar pada laptop Wintang
"Iya Alfa"
"Kok berasa deep banget ya, tapi gue ngerasa gak asing, Tang"
"Hah? Ga asing gimana? Lo pernah tau?"
"Tang, gue pernah denger dan baca tentang ini sekali, itu pun dari temen gue. Lo tau tentang twinflame?"
Wintang tak menyangka kalau Alfa tau tentang hal mendalam seperti twinflame yang jarang diektahui banyak orang disekitarnya dan mengingatkan nya pada seseorang. Terlebih lagi hal itu memang bersangkutan dengan apa yang akan ia tulis pada projek bukunya.
"Iya, Fa. Gue tau twinflame. Bahkan gue nemu seseorang yang gue harap jadi twinflem gue"
"Terus?"
"Terus gue salah besar" pikirannya lari pada seseorang yang selalu melekat pada ingatan.
Alfa sangat merasakan perubahan emosi pada perempuan dihadapannya itu. Dia tidak tau apa-apa, tidak tau banyak hal tentang Wintang, namun rasanya cukup tak nyaman melihat Wintang saat itu. Lelaki itu duduk di kursi yang tersedia untuknya, didepan Wintang.
"Lo percaya juga gak, Fa? Tentang twinflame"
"Gue gak tau, Tang. Gue ga tau banyak"
"Katanya, setiap orang punya kembaran jiwanya masing-masing, Fa. Kayak satu jiwa tapi beda raga. Kita bakal kayak lihat diri kita di orang itu. Tapi, itu gak sesederhana konsep kembar biasanya. Twinflame kita bakal menjadi cerminan dari emosi terdalam kita, bisa ketakutan sampe keinginan terbesar. Twinflame itu bukan menyempurnakan dua orang, justru satu orang itu udah sempurna, tapi mereka tumbuh bersama"
Alfa hanya terpelongo mendengar semuanya. Sesuatu tentang teori yang dalam telah ia dengar dari teman perempuan yang belum lama ia kenal itu.
"Apa twinflame itu sama dengan jodoh, Tang"
Wintang tersenyum
"Nggak selalu, Fa. Twinflame bisa merupakan temen, sahabat, adik kaka, dan pasangan"
"Kalo twinflame kita itu pasangan berarti rasanya seru ya, Tang. Ada seseorang yang faham betul kita gimana karena dia adalah kita juga. Iya nggak?"
"Nggak begitu Alfa. Penyatuan twinflame itu suatu kejadian yang dahsyat, twinflame yang ada dalam suatu kisah cinta justru bakal ngalamin hal-hal yang berat. Kisah cinta twinflame bukan kayak kisah romansa pada umunya, tapi penuh lika-liku, sangat"
Semua kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu sangat menarik dan ia fahami satu persatu.
"Saking penuh lika-liku nya, mereka harus menyeimbangkan satu sama lain, Fa. Gak jarang kalo jiwa mereka belum sama-sama mateng, mereka harus berpisah. Dan soul reunion atau reuni jiwa ini adalah salah satu fase dari mereka para pasangan twinflame"
"Jadi, reuni jiwa itu artinya mereka yang tadinya berpisah terus berhasil bertemu lagi?"
"Yap, betul, Fa"
"Lo percaya itu ada, Tang?"
Wintang terdiam, pandangannya ia arahkan keluar. Menatap jauh namun kosong, sungguh sendu terlihat jelas di sepasang mata yang cantik itu.
"Entah, tapi gue pernah menganggap seseorang sebagai twinflame gue, lebih tepatnya mengira. Gue kira hubungan kami yang penuh lika-liku, tapi ternyata emang jalan hidup gue doang"
"Siapa dia, Tang?"
Mmembuka Luka (Bagian 4 - Twinflame)
Sejak saat kamu putuskan untuk pergi, aku selalu terbangun dengan perasaan yang sama. Terbangun dengan sebuah perasaan yang menyubit hati, perih sekali. Sebuah ingatan bahwa "Hari ini, aku sudah tidak bersamamu lagi"
"Aduh kenapa sih kita harus olahraga?" ocehan itu sudah keluar dari mulut Anna mengawali pagi hari yang cerah di kota yang sejuk itu.
"Na, ini masih pagi buat ngeluh tau" ucap sahabatnya, Diva
"Tapi ini kita harus banget apa olahraga nya di depan gymnasium? Kan jauh dari fakultas kita, harus jalan dulu"
"Tau ni lagian pake nanya kenapa harus olahraga, lagian lo mau kalo tulang lo ga sehat karena ga olahraga? Lo mau baru lulus kuliah udah macem nenek gayung? nggak kan?" sambar Wintang
"Apasih ngegas mulu mba helow, kan gue bilang ini jauh Wintang!"
"Ya namanya juga mau olahraga, jadi harus di tempat nya Anna, lo kira bisa olahraga di lab bahasa?"
Pagi itu mereka berjalan bersama menuju sebuah taman didepan gymnasium kampus mereka. Terdapat sebuah taman yang sering dipakai orang-orang untuk berolahraga di hari libur seperti ini. Udara sekitar yang sangat asri karena banyak pohon yang rimbun menambah nyaman nya tempat itu sebagai tempat olahraga.
Ketiga sahabat itu berolahraga sebagaimana orang lain menghabiskan waktu ditempat itu. Hanya butuh waktu 15 untuk mereka berkeringat dan kelelahan, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dibawah pohon yang rindang.
"Heyyy orang macam apa kalian olahraga gak bawa minum hah?" teriak Anna ketika sadar tak ada satupun diantara mereka yang membawa minum
"Div lo jawab dah tuh, ga ada tenaga buat jawab dia gue" ucap Wintang yang masih kelelahan pada Diva
"Lupa kita juga. Na bentar ya jangan dulu ngomel cape ini"
"Ok sorry" jawab Anna tenang melihat kedua sahabat nya masih terengah engah kelelahan.
Matahari yang mulai bersinar terik tak mampu menyapa langsung kulit ketiga perempuan ini. Rupanya pohon rindang itu melindungi mereka dengan sangat baik. Setiap udara yang dikeluarkan para manusia dan pohon itu terus bertukar dan saling memberi satu sama lain. Kehausan mereka tidak terlalu terasa karena alam mengalihkannya.
"Misi, abis olahraga penting banget loh minum" suara itu terdengar dari balik pohon dibelakang ketiga perempuan itu yang sontak membuat mereka menoleh
"Woy siapa tuh?" Anna reflek berbicara
"Eh maaf ngagetin Teteh Teteh sekalian"
"Maaf?" ucap Diva bingung
Wintang yang tak asing dengan sesosok lelaki yang ia temui dua hari yang lalu di toko buku itu hanya tertawa kecil.
"Kayaknya temennya ini belom kenalin saya ke kalian ya?" ucap Alfa sambil menunjuk Wintang
"Loh, Tang. Lo kenal dia?" tanya Anna bingung
"Haha iya gue kenal, dia Alfa anak Ilmu Keolahragaan. Eh Alfa, lagian kenapa juga gue harus kenalin lo ke mereka dih" jelas Wintang
"Ya kan biar gue nambah temennya banyak, Tang"
"Yaudah buruan kenalan. Tega bikin orang bingung lo ya masa nyapa orang yang gak kenal gitu" omel Witang
"Ohiya kenalin gue Alfa, temen baru nya Wintang. Tadi gue liat kalian abis olahraga tapi gak bawa minum. Mmm karena gue kenal Wintang dan kalian pasti temen deketnya jadi gue bawain nih minum" lelaki berbadan atletis itu memberikan 3 botol air mineral
"Eh gausah repot-repot dong, Fa" ucap Diva merasa kurang enak
"Gapapa, anggap aja ini tugas gue buat ngingetin orang yang olahraga. Sekalian tanda kenalan"
"Yaudah makasih loh ya" ucap Diva lagi
"Oke sama-sama, btw gue ga bisa lama ya temen-temen. Harus latihan, jadi gue pergi duluan ya, bye" lelaki itu pergi meninggalkan Wintang dan sahabat-sahabatnya disana.
Menyisakan Anna dan Diva yang masih sedikit kebingungan, karena tidak biasanya orang asing memberi mereka sesuatu. Lebih kaget lagi kenapa salah satu sahabatnya ini mengenal orang itu, sedangkan mereka belum.
Air yang mereka genggam masing-masing pun diminum, sembari kembali duduk Wintang sudah tau pasti sahabatnya ini akan mengintrogasi dia. Lagi pula dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba Alfa muncul dihadapan mereka. Wintang kira setelah pertemuan dan cerita tentang ruang angkasa hari itu adalah pertemuan yang tak akan ada lagi temu, mengingat setelah mengobrol mereka langsung pulang masing-masing.
"Jadi dia itu siapa Wintang? Maen rahasia-rahasiaan lo hah?" Anna yang memulai pertanyaan
"Pala mu rahasia, gue cuma kenal orang itu doang udah"
"Kenal darimana? Kan fakultas bahasa sama olahraga jauhan"
"Emang nya lo yang maen nya di fakultas doang. Gue ketemu dia di toko buku"
"Terus terus?" tanya Diva
"Ya ga terus terus, kenalan, ngobrol, udah"
"Lah gitu doang?" ucap Anna
"Ya terus harus gimana ih? Muka lo kecewa bener"
"Tapi dia baik banget ini sampe ngasih air" kata Anna
"Nah iya bener" tambah Diva
"Cuy jadi gini, dia anak olahraga, dia tau apa apa soal olahraga termasuk orang kudu minum kalo abis olahraga, nah dia liat kita yang Cuma duduk karena gak bawa minum, daripada dia jadi saksi kasus 3 orang perempuan dehidrasi karena kebodohannya berolahraga tidak membawa minum, jadi dia kasih ini. Anak olahraga lain yang baik hati juga bakal gitu kok" jelas Wintang
Diva tertawa kecil mendengar penjelasan sahabatnya itu, sedangkan Anna justru gemas mendengarnya. Keringat mereka sudah mulai kering, dahaga nya pun terobati oleh air mineral pemberian Alfa. Obrolan dan tawa yang mereka ciptakan satu sama lain membuat pohon rindang ikut tersenyum.
"Eh, Tang. Kepikiran lo sama Alfa bakal kenal jauh gak?" tanya Diva yang tiba-tiba membahas topik mengenai Alfa lagi
"Ya gatau, Div. Biar ngalir aja kayak pertemuan sama pertemanan biasanya"
"Tapi, Tang. Lo gamau apa buka hati buat ngebiarin lelaki masuk?" tanya Anna, percakapan ini mulai tak disukai Wintang
"Kok jadi kesana ya?" tanya Wintang
"Ngga, Tang. Maksud gue, biar lo ga terus-terusan keganggu sama masa lalu lo"
"Na, Div gak ada yang ganggu gue kok. Apapun itu. Dan kenapa gue harus biarin orang lain masuk? Gue gak punya alesan buat itu."
"Tapi kan..."
Diva langsung memegang tangan Anna tanda meminta Anna untuk tidak melanjutkan percakapan itu.
"Gapapa, Tang. Semoga kita cukup buat lo ucap" Diva lembut
"Kalian emang cukup buat gue, jadi jangan bicarain itu lagi ya" pintanya tenang.
Anna dan Diva mengangguk tanda mengerti
"Udah siang juga, kayanya gue harus pulang guys ada yang harus gue kerjain. Gue duluan ya"
Perempuan berambut pendek itu pergi meninggalkan sahabatnya, tak lupa dengan senyuman yang selalu ia berikan.
"Div, gue salah ya?"
"Nggak kok, Na. Wintang yang belum siap, gausah kita dorong-dorong juga sekalipun itu karena kita mau dia bahagia"
***
Kamar sederhana bercat putih dan polos itu merupakan tempat ternyaman bagi Wintang. Disana semua perjalanan di kampusnya itu bermula, disana pula ia dapat bersistirahat dari berbagai hal yang ia lalui setiap hari. Dinding-dinding itu bahkan menjadi teman yang selalu mengetahui apa yang ia ucapkan, kecuali hal-hal yang hanya berputar dikepalanya.
Tentu saja merebahkan diri adalah hal terenak yang dilakukan seusai olahraga. Siang itu matahari semakin menantang, tapi didalam kamar justru semuanya terasa cukup. Sinar matahari itu sangat cukup menemaninya saat membuka matanya dikala siang.
Perempuan itu menjatuhkan dirinya ke kasur, menatap langit-langit putih yang ada di hadapannya. Padahal ia tahu, berdiam diri seperti itu bukanlah hal baik bagi pikirannya. Mengistirahatkan fisiknya hanya akan memicu pikirannya terbangun, yang tak baiknya adalah semua pikiran itu muncul bahkan hingga pikiran yang tak seharusnya dipikirkan lagi.
Kenapa mereka sering menyuruhku membuka hati? Apakah harus? Untuk apa? Untuk menyambut luka baru kah? Ingin rasanya aku mengadu pada kamu. Hei, orang-orang menyruhku membuka hati, mereka tidak tau kalau hati ku sudah kamu bawa. Mereka sering bilang agar aku sembuh dari masa lalu, mereka tidak tau bahwa obat bagi ku cuma kamu.
Apa kamu tau? Aku benci setiap perasaan dikala pagi menyapa, perasaan yang datang setiap aku bangun dari tidur ku. Sebuah perasaan yang tak kunjung usai, sakit sekali rasanya menyadari bahwa kamu sudah tidak lagi untuk ku. Dan itu terus terjadi hampir setiap pagi. Padahal dunia kita masih sama, tapi sekat antara kita kini bagai jarak antara bintang dengan bintang lainnya. Sudah taun ke berapa ini? Tapi duka ku masih saja sama.
Perempuan itu memilih untuk memendam lukanya, berfikir bahwa biar saja sperti ini. Lamunan yang hadir pada dirinya selalu saja mengasilkan air mata. Hanya menulis yang mampu menjadi pereda sakitnya untuk sementara. Mempublish nya dalam sebuah blog, berharap seseorang di sebrang sana membaca dan tahu akan pesan-pesan perihal rasa, luka, hingga rindu itu terarah padanya.
"Sampe kapan gue jadi orang cupu kayak gini?" ucapnya sembari menyenderkan dirinya pada salah satu dinding kamarnya setelah ia mempublish tulisan nya itu ke blog miliknya. Wintang selalu berfikir bahwa dia terlalu cupu untuk menyampaikan pesan ini secara langsung. Pikirannya berbicara kembali, kini hanya sambil menatap atap kamar dengan sisa air mata yang sudah disekatnya.

