Recent Blog Post

Archive for Juni 2020


  • "Bisa-bisanya gue nyeletuk soul reunion dan langsung di ‘iya mantepin’ aja sama kang Fahmi. Ah Wintang lo kenapa sih! Emang tau apaan soal itu, yang ada buku lo dianggap aneh. Soul reunion? Apaan reuni jiwa? Ngaco nih gue”

    Wanita itu hanya uring-uringan sendiri didepan cermin sebuah toko buku setelah 20 menit ia menempuh perjalanan sesudah menutup telefonnya dari kang Fahmi. Rupanya tuntutan untuk menyelasaikan buku itu membuatnya harus banyak lagi membaca buku. Akhirnya siang itu ia putuskan untuk ke toko buku mencari novel baru. 

    Wintang memasuki toko dan mulai berjalan diantara rak-rak buku. Keadaan dan cuaca hari itu cukup berbeda dari biasanya, seperti siang namun sejuk menyapa Wintang hingga kedalam toko buku. Belum lama masuk matanya terarah pada sebuah rak buku yang memiliki nomor 11. 

    Ia mengambil sebuah buku berwarna coklat dengan sampul bergambar sepasang lelaki dan perempuan yang berjudul “Temu”. Ia buka secara random bukunya tepat dihalaman 111, sub judul dari buku tesebut yang bertuliskan “Reuni Jiwa” membuatnya kaget. Baru saja ia berbicara hal yang sama dengan kang Fahmi ditelepon. Wintang menengok jam digital yang tertempel di dinding toko itu, waktu menunjukkan pukul 11:11.

    Belum selesai kagetnya, kini ada hal yang membuatnya lebih terkejut ketika sesuatu terbesit dipikirannya. “Wintang mau ketemu seseorang” pikiran itu bagai datang dari alam bawah sadar yang mengetuk alam sadarnya, bagai petir yang menyambar. Hanya butuh hitungan detik dan Wintang menatap ke arah depan, ujung dari rak buku yang saat ini ia berada.

    Terlihat seorang lelaki berbadan tegap berkaos hitam pendek dengan jeans panjang sedang berdiri membaca buku juga.

    “Deg” hati Wintang bagai tertegur “memangnya seseorang seperti apa dia?” dalam hatinya bertanya dan kebingungan. Sedangkan lelaki itu mersakan ada seseorng yang menatapnya, pandangannya dari buku bacaan beralih kepada Wintang.

    Mengabaikan pertanyaan yang muncul dikepalanya Wintang buru-buru menyimpan buku yang ia pegang dan beranjak pergi ke rak buku lain. Sepertinya ia merasa tidak enak karena telah dipergoki menatap seseorang oleh orang itu sendiri. Namun ia melupakan buku yang seharusnya menjadi bacaan dia itu.

    “Kenapa gue kayak pencopet yang kabur sih? Mana buku nya lupa gue bawa, sekarang malah harus nyari yang lain” ocehan perempuan itu dengan nada pelan. Akhirnya dia mengambil beberapa buku tentang filososfi untuk ia fahami, dan buku-buku fantasi kesukaannya untuk ia baca sebagai reward yang menyenangkan hati.

    Kaki kecilnya membawa ia ke lantai 2 toko itu, tempat dimana para pembaca bisa membaca setiap buku dengan nyaman. Dengan meja dan kursi yang tertata rapih, Wintang mengambil tempat yang ada di sisi ruangan itu yang semuanya terbuat dari kaca sehingga dia bisa sesekali melihat ke luar memandangi kendaraan yang lalu lalang.

    “Teh, saya boleh ikut duduk disini” tanya seorang pria pada Wintang

    “Ohiya silahka...” belum selesai kalimatnya, Wintang kaget ketika ia menengok ternyata pria itu adalah orang yang ia tatap tadi

    “Eh Teteh yang tadi di rak depan itu ya?” sambung pria itu sembari duduk di bangku kosong didepan Wintang, kini hanya sebuah meja bulat yang ada diantara mereka berdua.

    “Ah, iya betul” Wintang kikuk dibuatnya

    “Kok saya berasa pernah kenal sama Teteh, ya?”

    Belum apa-apa Wintang dibuat bingung kenal apaan, emang nya lo siapa?janga-jangan ini modus laki laki buaya darat lagi gumamnya dalam hati. 

    “Masa sih Mas? Kan baru ketemu saya sekarang”

    “Ya saya juga gatau, Teh. Eh ini beneran saya boleh ikut duduk disini? Soalnya ini tempat duduk favorit saya disini”

    Wintang langsung menepis pikiran jeleknya terhadap orang itu, mencoba untuk berprasangka baik.

    “Iya Mas gapapa kok lagian itu kosong”

    “Makasih ya, Teh”

    Mereka hanya membaca dan melakukan aktivitasnya masing-masing seperti orang asing yang beretemu di tempat umum pada biasanya. Sampai salah satu dari mereka merasa tidak nyaman dan memulai percakapan lagi.

    Lelaki itu melihat tumpukan buku fantasi milik Wintang diatas meja.

    “Mmm Teh, suka cerita fantasi ya?”

    Wintang tetaplah Wintang yang baik hati dan ramah juga mudah berteman.

    “Ohiya mas, saya suka banget cerita fantasi. Kenapa? Mas nya juga?”

    “Nggak sih Teh, saya gak punya selera buku, saya Cuma baca apa aja yang saya mau”

    “Kok bisa ya, agak aneh Mas nya haha”

    “Ya emang begitu Teh. Ngomong-ngomong Teteh asli Bandung bukan?”

    “Bukan Mas, saya mahasiswa rantau”

    “Oh Teteh nya mahasiswa juga.”

    “Haha iya Mas” 

    Dalam hatinya, Wintang risih sekali dipanggil dengan sebutan Teteh oleh seseorang yang terlihat seumuran dengan nya itu. Panggilan khas sunda kepada perempuan itu dan logat yang mendayu sudah bisa membuat Wintang menebak bahwa lelaki ini pasti asli sunda.

    “Semester berapa Teh?”

    “Semester 6 Mas”

    “Wah sama dong, ternyata kita seumuran.”

    “Nah bagus! Jadi gausah panggil gue Teteh ya”

    Lelaki itu kaget karena gaya bicara perempuan yang dari tadi dia ajak ngobrol langsung berbeda

    “Wah haha kenapa gak bilang dari tadi, jangan panggil gue Mas juga ya”

    Keduanya hanya tertawa kecil mengetahui tingkah yang dijaga satu sama lain terhadap orang yang belum dikenal, tapi ternyata bisa satu frekuensi.

    “Yaudah yaudah berarti sepakat yak ngobrol santai nih kita” ucap lelaki itu

    “Iya iya ini santai” jawab Wintang sambil tersenyum

    “Gue belom tau nama lo malah, mahasiswa jurusan apa?”

    “Gue Wintang Ardiyaksa, panggil aja Wintang. Gue jurusan Bahasa dan Sasta Indonesia”

    “Wah anak bahasa emang suka baca-baca buku gini ya?”

    “Gak juga sih, gua baca biar bisa nulis aja”

    “Kenalin, gue Alfa Sena Tauri, mahasiswa Ilmu Keolahragaan” ucap nya sambil mengulurkan tangan yang tak disambut oleh Wintang.

    Perempuan itu cukup kaget mendengar nama lelaki itu

    “Alfa atau alpha?”

    “Alfa ya bukan Alpha. Ini jabat tangan dulu biar resmi kenalan nya”

    Wintang langsung menyambut uluran tangan Alfa. Pikiran nya masi terkaget kenapa lelaki itu punya nama mirip dengan nama sebuah bintang. Ya, bintang Alpha Centauri yang sangat ia sukai hingga ia pinjam namanya sebagai nickname nya. Sebuah nama yang memiliki begitu banyak cerita. 

    Tapi perempuan itu menepis pikirannya, ini hanyalah seorang lelaki biasa yang baru ia temuai hari itu. Tidak ada hubungan apapun dengan bintang kesukaannya atau apapun.

    “Lo suka benda angkasa ya?” tanya Alfa menghentikan lamunan singkat Wintang

    “Ah, iya. Kok lo tau?” perempuan ini sangat excited jika seseorang bertanya tentang hal itu

    “Soalnya lo tanya nama gue Alfa atau Alpha, pasti kepikiran soal nama bintang”

    Pikirannya tertebak oleh seorang lelaki yang ada dihadapannya. Tak peduli itu, Wintang senang jika mendapat seorang yang mengerti akan kesukaannya itu.

    “Iya gue suka banget, sering baca soal benda luar angkasa atau ikutin ceritas fiksi nya, lo suka juga?”

    “Mmm kayaknya sama kayak buku bacaan deh, ga ada hal yang gua favoritin gitu selain olahraga kayak nya haha”

    “Yahh” Wintang sedikit kecewa

    “Eh tapi lo bisa bagi cerita ga tentang itu? Gue seneng banget denger orang cerita tentang apa yang mereka suka. Gue jadi bayangin gimana rasanya punya hal yang disuka” lelaki itu sangat antusias meminta Wintang bercerita

    “Serius? Gue seneng banget kalo ada tempat cerita. Haha gue bakal cerita sampe lo bosen ya” perasaannya kembali senang

    Siang itu mereka habiskan dengan cerita Wintang tentang benda-benda angkasa yang ia sukai, tentang cerita-ceita fiksi mengenai bintang-bintang. Bahkan dari obrolan panjang itu ternyata mereka berdua adalah mahasiswa dari kampus yang sama. Benar kata Alfa, dia seperti mengenal Wintang sudah lama meskipun secara nyata ia baru bertemu dengan nya hari itu.

    Membuka Luka (Bagian 2 - Temu)


  • Langit malam selalu tampil elegeant, baik dengan para bintang maupun tidak. Juga jutaan rahasia dibalik kedamaiannya yang sering sekali makhluk bumi cari tahu kebenarannya. Mulai dari tentang para bintang, planet, galaxy, hingga cerita dibalik setiap kejadiannya. Sebagian dari kita, adalah mereka yang memahami spiritual lebih dalam, mengenal istilah starseed. Orang orang istimewa yang berasal dari bintang dan turun ke bumi, katanya.

    Terlepas dari nyata atau tidak, seorang perempuan yang selalu jatuh cinta pada benda luar angkasa selalu menggenggam cerita tentang starseed ini. Seorang perempuan lembut dengan hati bagai lautan dan kepalanya yang berisi banyak hal fantasi seluas alam semesta, yang menyimpan banyak sekali perasaan dalam dirinya.

    "kriiiing!"

    Suara alarm membangunkan perempuan itu dari tidurnya. Wintang Ardiyaksa, mematikan jam beker nya yang berdering dan cukup untuk membuatnya beranjak dari tempat tidurnya. Sebuah kostan sederhana didekat kampusnya menjadi tempat perempuan perantau ini tinggal. Menimba ilmu di kota Bandung yang lumayan jauh dari kediaman asalnya di Palu membuat perempuan ini harus hidup secara mandiri.

    Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya, namun udara di kota kembang ini memang selalu sejuk dan masih terasa dingin. Wintang bergegas menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hanya butuh saktu 8 menit dengan berjalan kaki untuk Wintang tiba di Fakultasnya. Mahasiswa semester 6 ini selalu datang ke kelasnya dengan wajah yang berseri tanpa lupa menghampiri terlebih dahulu kedua sahabatnya yang selalu datang lebih dulu Anna dan Diva.

    "Pagiiii sayang sayangku" sapa Wintang dengan semangat sambil merangkul kedua sahabatnya yg sedang duduk bersebelahan di dalam kelas.

    "Baru dateng ya tuan putri" jawab Anna singkat

    "Iya dong, tapi gue gak kesiangan kan hari ini, yeayy"

    "Iya tumben, gak begadang lagi kayak biasa?" tanya Diva

    "Nggak, malem tadi gue lagi males baca jadi gak baca apa-apa sampe begadang, Div"

    "Ada malesnya juga ya ternyata, kirain saking sukanya sama bintang-bintangan ga akan sampe absen baca" ucap Diva

    "Hmm iya juga ya"

    "Kenapa lo gak masuk jurusan astronomi aja sih, Tang?" tanya Anna dengan jutek nya yang khas

    "Kalo di astronomi mana bisa gue bikin frasa-frasa sama puisi, wleee" Wintang menjulukan lidahnya tanda mengejek

    "Yaemang lo masuk jurusan ini buat bikin frasa sama puisi doang apa?" timpal Anna

    "Iya biar lo seneng baca puisi kalo suatu saat teman lo ini jadi penulis puisi sama frasa terbaik di dunia"

    "Dih pede banget"

    Diva hanya menggelengkan kepala meliat kedua sahabatnya sepagi ini sudah mulai berdebat kecil. Kebiasaan Anna dan Wintang yang sering berdebat selalu menjadi tugas Diva untuk menjadi penengahnya.

    ***

    "Mau langsung pulang atau ke kantin?" tanya Anna kepada kedua sahabatnya setelah jam mata kuliah hari itu berakhir

    "Kantin yu, gue laper" jawab Diva

    Yang menjadikan ketiga mahasiswi ini tidak menjadi mahasiswi yang kuliah pulang kuliah pulang adalah setelah kuliah mereka pergi ke kantin, memang tidak langsung pulang. Mereka mulai beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin, akan tetapi rupanya diri Wintang ter notice seseoroang yang sedang berdiam di salah satu sisi kelas, telihat termenung seperti sedang ada sesuatu yang ia pikirkan.

    "Kalian duluan aja deh, nanti gue nyusul gue mau ke Tia dulu ada perlu" pinta Wintang kepada shabatanya sambil menunjukan ke arah orang yang sedang termenung itu. Keduanya tak banyak menjawab dan menuju kantin duluan sesuai dengan permintaan Wintang.

    Wintang menghampiri salah seorang teman kelas nya itu. Dia bisa saja meninggalkan siapapun yang ada dikelas. Akan tetapi perasaan nya selalu ikut tak enak apabila ada seseorang sedang bersedih disekitarnya, empati yang dimiliki perempuan ini memang sangatlah tinggi.

    "Tia Tiaa, gue mau nyoba filter baru di insta story nih lo juga coba bareng gue ya" ucap Wintang sambil mengarahkan kamera ponsel nya itu kepada dirinya dan Tia yang sontak membuat Tia tersenyum agar terlihat cantik dikamera.

    "Wah bagus nih Ti gue nya cantik"

    Tia hanya tertawa melihat Wintang, dia faham betul apa yang sedang temannya itu lakukan.

    "Loh kok lo ketawa Ti?"

    "Tang, lo tuh paling peka ya kalo orang kenapa napa. Gue tau kok kalo maksud lo tadi karena liat gue murung dan biar senyum" ujar Tia

    Wintang tesenyum melihat suasana hati Tia yang membaik dan dapat terlihat dari wajahnya itu.
    "Syukur kalo lo baikkan Tia, emangnya ada apa sih? Lo mau dan bisa cerita?"

    "Lo selalu jadi yang pertama kalo nolong orang, Tang. Susah cari orang yang tepat untuk jadi tempat cerita, tapi lo mampu"

    Hari itu, Tia bercerita masalahnya kepada Wintang yang excited dalam mendengarkan orang lain berbicara dan selalu punya jawaban yang mampu membuat lebih tenang.

    Wintang selalu memiliki cara untuk menyembuhkan orang lain. Dia tak pernah meminta untuk orang lain bercerita, tetapi menawarkan dengan nada begitu lembut dan menyejukkan yang akhirnya membuat orang lain selalu merasa aman dan terobati. Perempuan ini memang hobby menebarkan energi posistif pada setiap orang.

    ***

    Wintang berjalan menghapiri kedua sahabatnya yang tengah duduk dikursi kantin dan ikut duduk dikursi yang sudah mereka sediakan untuknya.

    "Gimana kali ini Wintang Ardiyaksa sang healer?" goda Anna padanya

    "Ih apaan sih lo ah"

    "Lo abis nyembuhin perasaan orang lagi kan? Gimana tadi Tia?" Anna sangat faham apa yang telah Wintang lakukan

    "Gue rasa sih dia udah baikan barusan, gue juga udah berasa enakan"

    "Lo tu dukun atau apa sih, Tang?" celetuk Anna asal

    "Lah kok dukun sih, bener-bener ngaco nih orang,mana ada dukun sih" sangkal Wintang sembari agak kaget

    "Ya lagian lu tau banget perasaan orang, abis itu selalu bisa bikin dia lebih baik"

    Diva yang dari tadi hanya diam kini ikut berbicara

    "Menurut gue sih Wintang tuh cuma tulus aja sih care nya. Jujur ya, Tang gue juga gak apatis amat sih tapi kalo mau bantu orang masih mikir, sedangkan lo bisa-bisanya spontan"

    "Hmm...ga segitunya juga mungkin, Div" jawab Wintang

    "Merendah mulu lo, biasanya depan kita gak jaim" sambar Anna

    "Yee sembarangan, ini gue beneran gak lagi jaim ngapain juga depan kalian jaim" sangkal Wintang

    Sembari medengarkan omongan sahabat-sahabatnya Wintang merenung, hingga berbica kembali "Gue cuma, tau aja kalo orang yang dalam keadaan sulit itu ga enak. Ya kalian juga pasti tau, cuma gue selalu terusik sama pikiran gue sendiri kalo gue tau orang butuh pertolongan tapi gue ga bisa apa-apa. Gue juga tau kok kalau keadaan sulit itu justru ajang belajar setiap orang, jadi gue ga akan ganggu proses itu dan biarin orang orang nikmatin pembelajaran nya, sampe gue mikir kalo udah waktunya gue lakuin sesuatu, sekecil apapun itu."

    Anna dan Diva hanya terdiam mendengar ucapan Wintang.

    "Tang, saking sering debatnya lo sama gue, gue sampe lupa kalo lo seorang dewasa, penulis blog yang tulisannya orang sukai juga. Makanya gue suka kaget kalo lo bisa ngomong kayak gini, harusnya ga aneh lagi ya" ucap Anna pada temannya itu

    "Yang lo inget cuma keributan doang sih, Na. Udah yu pulang, lo ingetin soal blog gue jadi kepikiran projek kang Fahmi nih"

    "Projek sama kang Fahmi itu buku atau apa, Tang?" tanya Diva

    "Rencananya sih buku, doain aja ya. Sekarang penerbit itu pasti udah ngomel nanyain ide, padahal gue buntu banget. Untung sodara"

    ***

    Memandangi tembok kosan yang polos merupakan cara Wintang berfikir ketika ide nya buntu. Menulis blog tentang cerita fiksi dan kumpulan frasa tentu berbeda dengan membuat sebuah buku apalagi dimintai oleh orang lain, bukan kemauan yang muncul dalam dirinya sendiri.

    Merasa tak menghasilkan apaun, Wintang membuka laptopnya dan melihat-lihat tulisan yang ada di blog miliknya. Blog bernama alphacentauris itu berisi tulisan yang selalu mengalir begitu saja ketika dia mengetik dan menerbitkannya. Semua tulisan yang ada didalam blog itu adalah tentang perasaan yang dia genggam, tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan namun tak pernah bisa, kepada seseorang yang bayangan nya sering muncul dikepala Wintang, namun selalu dia sangkal. Matanya menatap layar laptopnya, menyelami setiap tulisan yang ia buat sendiri.

    Alphacentauris, kenapa aku masih pakai nama ini? Kenapa aku masih nulis semua ini? Aku harap pertanyaan itu muncul dari kamu. Karena itu berarti kamu sadar akan semua pesan dan tentang perasaan yang ku tulis disini, itu semua untuk kamu. Bukannya tak peduli jika diri ini harus sakit karena terus memanggil memori dan tak membiarkan rasa ku hilang. Tapi ini adalah cara yang lebih baik dibanding aku harus membiarkan pikiran ku yang sangat berisik, menulis adalah caraku mencapai kedamaian pikiran, walau hanya sementara.

    "Triiiiing"

    Suara telepon membangunkannya dari lamunan yang hanya mengingatkan dia dari kesedihannya itu. Kang Fahmi, saudaranya asal Bandung yang merupakan penerbit buku itu menelpon keponakannya untuk membahas projek yang harus dibuat oleh Wintang.

    "Halo, Tang. Gimana progres bukunya?"

    "Hehe masih stuck kang belom ada perkembangan"

    "Kamu ya, publish tulisan di blog aja rajin"

    "Hmm... beda cerita dong Kang"

    "Apa yang susah dari bukunya sih Wintang? Tulisan mu di blog udah bagus, kamu tinggal tulis untuk buku"

    Wintang mulai menarik nafas panjang

    "Wintang harus nulis apa ya kang?" tanyanya memelas

    "Tang, bayangin aja kayak kamu lagi nulis blog"

    Tapi bagi Wintang tulisan di blog nya itu adalah penghantar pikirannya kepada seseorang dimasa lalu yang menyayat hatinya. Menulis lebih banyak hal yang disamakan dengan saat menulis blog, artinya dia harus lebih dalam dan lebih lama lagi menempatkan perasaannya dimasa lalu. Wintang hanya memandang dinding didepan dirinya sambil memikirkan hal itu, sedangkan kang Fahmi masih melanjutkan ucapannya.

    "Coba deh, sekarang ini apa yang lagi Wintang pengenin atau bayangin?"

    Matanya masih kosong memandangi dinding, pikiran dan perasaan nya tak karuan.

    "Halo Wintang?"

    Masih belum sepenuhnya terbangun dari lamunan, Wintang menjawab pertanyaan dari kang Fahmi

    "Wintang mau, 'soul reunion' "

    Membuka Luka (Bagian 1- Alpha Centauris)





  • Pernah ada yang mengatakan bahwa seseorang yang kamu cintai diusia 16 tahun adalah orang yang akan mempengaruhi hidup mu? Apa itu terjadi dikamu? Untukku, itu adalah nyata. Ya, sesorang itu mempengaruhi hidup ku, sangat jauh. Sayangnya, tak hanya perihal suka tapi banyak luka menyelip disana.

    Dia hadir dan melekatkan banyak sekali kenangan hingga saat ini. Ku kira waktu akan mengikis habis rasa kepada pemiliknya yang telah lama pergi. Tetapi, kadang sesuatu yang memilih untuk dipendam tak akan berubah. Terkadang luka harus dibuka dan dilihat kembali jika memang ingin benar-benar disembuhkan.

    Kamu percaya teori tentang Twinflame? atau teori tentang Starseed? mereka adalah teori fantasi yang mungkin tak nyata, sama seperti seseorang yang ku anggap twinflame ku sekaligus seorang starseed yang aku cintai. Seseorang yang hadir sebagai bahagia terbesar, sekaligus luka terbesar ku.

    Surat Untuk Makhluk Bintang Kesayanganku, Sirian.

    Aku belum sembuh, tapi ku pastikan aku akan sembuh.
    Aku telah melewati banyak masa pahit, tapi ditinggalkan mu ternyata adalah hal yang lebih pahit lagi.
    Tak apa, itu adalah pilihan mu, dan ini adalah proses bagi ku.

    Mengingat seberapa banyak hal dan masalah yang sudah kita lewati,
    Menyadari betapa aku menyayangi mu, ku harap kamu tidak menemukan cinta seperti ku lagi,
    temukan yang kamu mau.
    Setulus hati rasa ini ku rawat dengan baik dan tumbuh dengan besar,
    ku jaga kala badai itu datang menghampiri walau banyak dari diri ku yang habis terkoyak.

    Mendukung mu kala impian mu baik,
    Mengembangkan diri ku agar sama-sama menjadi orang hebat nantinya bersama mu.
    Walau sempat akhir-akhir ini kamu pertanyakan padaku, apa aku mau berjuang bersama?
    dan seperti apa berjuang bersama itu?
    Aku tertawa kecil, ku pikir tak apa, mungkin kamu hanya sedang lupa apa yang pernah kita lalui

    Ini adalah aku, orang yang selalu menunggu pesan dari mu
    Sesekali mengganggu walau tahu dimana kamu sedang berada.
    Sesekali aku mengingat wish list yang pernah kita buat,
    wish list yang tak pernah aku buat dengan siapapun atau mungkin
    tak bisa lagi aku buat dengan orang lain.
    Sempat ku baca lagi pesan-pesan cinta penuh harap yang pernah kamu kirim,
    senyum ku terukir, mata ku berlinang kembali

    Membuka Luka (Prolog)

  • - Copyright © Alpha Centauris - Powered by Blogger - Designed by Edogawa -