New Post!
Aku masih mampu bertahan disini dan baik-baik saja. Bahkan aku tak pernah melupakan pesan dari mu. Kamu benar perihal mengobati orang lain adalah salah satu cara terbaik mengobati diri sendiri juga. Tapi apakah kamu tau? Aku rasa ada yang salah, hal-hal yang aku katakan kepada orang lain tak mampu menembus relungku untuk mengobati luka ku sendiri. Semua peyembuhan yang aku rasakan hanya bagai pereda sakit sementara.
"Ya lagian lo lemah ah, lo kan cowok Angga!"
Siang itu saat mata kuliah belum dimulai, suara Anna sudah terdengar paling keras diantara obrolan mahasiswa lainnya yang ada di kelas. Padahal dia bukan sedang berbicara dengan seseorang yang jaraknya jauh, tapi suaranya yang khas itu keras hingga mampu terdengar oleh Wintang yang saat itu berada disalah satu sisi kelas.
Wintang menengok ke arah suara itu berasal, dia melihat sahabatnya dengan tingkahnya yang seperti biasa susah sekali lembut kepada orang lain. Kali ini seorang teman lelaki di kelasnya bernama Angga yang sedang Anna 'semprot'. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Tentunya perempuan itu berjalan mengahmpiri kebisingan itu.
"Angga maaf ya, Anna nya lepas dari pengawasan gue" gurau Wintang sambil mengambil kursi untuk duduk di depan Anna dan Angga
"Sembaranga lo, emangnya gue apaan?" protes Anna tak terima
"Tau nih gue malah tambah pusing denger dia" lelaki itu mengadu pada Wintang
"Yee pan lo yang cerita. Dah ah gue emang ga bisa sabar kalo denger orang cerita. Syukur deh lo dateng, Tang. Gue mau pindah aja, bye!" Anna meninggalkan Wintang dan Angga di deretan bangku belakang itu.
"Emang gitu dia haha, maafin ya" ucap Wintang
"Iya Tang santai kita kan emang faham dia gimana haha"
"Emang ada apa, Ga? Lo baik-baik aja?"
"Tang, apa salah ya kalo setelah 5 bulan ini cewek gue ninggalin gue tapi gue masih aja sedih-sedihan?"
Perempuan itu diam sejenak, batin nya terasa ikut terpukul. Dia berusaha tenang dan memberi energi positif bagi seorang lelaki di hadapannya ini yang belum mampu melupakan seseorang yang dicintainya.
"Angga, gapapa" ucapnya lembut dengan senyum manis melekuk di bibirnya
"Tapi orang bilang gue bodoh, Tang"
"Lo ga bodoh, sama sekali nggak. Kenapa dengan belum bisa mengikhlaskan harus jadi bodoh? Kita kehilangan orang yang kita sayangin, dan gak ada sebuah kehilangan yang bakal kerasa baik-baik aja."
"Ternyata ini yang pengen gue denger dari orang lain Babe, thanks Tang udah mau ngerti"
"Kadang kita cuma butuh sebuah pengakuan, Ga. Akui bahwa kita masih sakit dan itu gapapa, biarin rasa sakit itu selesai di hati lo. Kalo udah selesai, itu bakal ilang sendirinya. Pelan-pelan aja"
"Bener juga ya, ga kerasa gue selama ini selalu nyangkal karena orang selalu bilang gue harus banget move on"
"Haha gapapa wajar, orang kan buka kita. Cara orang lain juga beda, mereka gamau lo terus-terusan sedih aja. Udah ah bentar lagi dosen masuk nih"
"Ok, besok gue telaktir es krim deh, Tang"
Perempuan itu hanya memberi senyum hangat nya dan kembali duduk ke tempatnya di jajaran bangku paling depan. Pikirannya terusik, untuk kesekian kalinya ia mendapati perasaan yang lega karena seseorang telah membaik. Tapi di waktu yang sama dia malu terhadap dirinya sendiri. Apa gue pantes ngeyakinin orang lain bahwa sebuah luka bakal ilang sendirinya, sedangkan gue yang selama ini nyoba pun belum pernah berhasil.
***
Masuk jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini memang menjadi pilihan Wintang sedari duduk di kelas 12. Merupakan waktu yang cukup mendadak mungkin, tapi semenjak dia senang merangkai kata yang indah, dia jatuh cinta dengan bahasa dan sastra negaranya ini.
Melewati waktu dikelas dengan berbagai pelajaran tentang bahasa dan sastra adalah waktu yang disenangi Wintang. Waktu disaat-saat seperti itu selalu terasa cepat baginya, memulai pelajaran dan selesai begitu saja.
"Tang, hari ini gue sama Diva harus ke toko kue buat ambil pesenan ibu gue, lo gapapa kan?" tanya Anna seusai jam mata kuliah berakhir
"Tega lo gak ajak gue" mukanya memelas.
"Ya masa mau bonceng tiga, Tang"
"Ih ayo bonceng tiga aja"
"Gak, gak, gak"
"Hari ini doang kok, Tang." timpal Diva
"MAU BONCENG TIGA!!" Wintang mulai memasang wajah marah
"Dih, sakit ni orang" ucap Anna
Diva hanya tertawa melihat keadaan tersebut
"Yaudah, mau lo aja yang pergi sama Anna? Biar gue yang gak ikut. Mau?" Diva menawarkan
Wintang lebih tidak tega kalu Diva yang tidak ikut, lagi pula terlalu beresiko jika Wintang berduaan dengan Anna dan tidak ada Diva. Bisa-bisa mereka berdebat sampai lupa waktu.
"Eh nggak deh, lo aja yang ikut Div."
"Tapi jangan marahan yaaa" goda Diva
"Ya nggak lah kenapa harus marah haha. Udah sana berangkat tar keburu sore"
"Ya lo kan yang menghambat Wintang wanting" ledek Anna
"Heh nama gue!"
"Apa? Apa hah?"
Diva segera menarik perlahan tangan Anna untuk diajaknya pergi untuk menghindari perdebatan lebih lanjut. Tawanya tak bisa ia tahan setiap kali melihat kelakuan dua sahabatnya. Sedangkan Wintang sangat lesu ditinggal oleh Anna dan Diva hari itu.
Wintang keluar kelasnya dengan menata semangatnya itu. Belum lebih dari 2 meter ia meninggalkan kelas, terlihat seorang lelaki yang sepertinya kebingungan di Fakultas Bahasa dan Sastra itu. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat lelaki itu sangat mencolok ketika berada ditempat yang sedang tidak banyak orang itu. Nampaknya lelaki yang tak asing bagi Wintang,
"Lah Alfa?" perempuan itu lagi-lagi bertemu dengan Alfa
Dari kejauhan ternyata Alfa menyadari keberadaan Wintang, wajahnya kegirangan dan berlari kecil menghampiri Wintang sambil melambai.
"Lah, dia ke gue?" Wintang malah bingung.
Alfa menghentikan langkahnya tepat didepan Wintang.
"Hai Wintang"
"Hai, lo kok ada disini, Fa?"
"Gue tadi ada ngumpulin tugas, dosennya di fakultas ini"
"Oh pentesan. Terus tadi kenapa kayak orang linglung? Haha"
"Ya karena gue belom tau wilayah sini lah, ini gedung kayak muter-muter"
Perempuan itu tertawa kecil mendengar ucapan lelaki yang berdiri dihadapannya
"Yang muter-muter tu lo, bukan gedungnya"
"Tapi gue inget gue punya temen anak bahasa jadi gue sekalian nyari lo deh"
"Wah inget juga sama gue ya"
"Iya dong, soalnya gue mau minta bantuan lo"
"Inget karena mau minta bantuan nih?"
"Hehe ya ngga dong, Tang. Mau ya bantuin gue"
"Bantuin apa?"
"Ada deh, tapi harus ditoko buku. Kayaknya enak buat nugas"
Perempuan itu memang jarang bisa menolak untuk dimintai bantuan, apalagi jika mendegar harus ke toko buku itu.
"Nanti gue kasih milk tea" ucap Alfa
Toko buku dan milk tea adalah dua hal yang Wintang senangi, bagaimana dia mampu menolak kalo seperti itu.
"Gasss" jawab Wintang semangat
Keduanya langsung menuju toko buku yang mereka sukai itu. Wintang menyukai toko buku itu karena dia memang senang membaca. Dia pun menyukai aroma-aroma buku yang ada ditoko. Ditambah dengan sebuah tempat yang tersedia untuk menghabiskan waktu utnuk membaca, atau mengerjakan tugas, dengan pemandangan yang indah.
Sedangkan Alfa menyukai toko buku dan tempat membaca itu karena menurutnya tempat itu tenang dan sangat nyaman.
Hanya butuh waktu 10 menit bagi Alfa dan Wintang menempuh perjalanan dengan motor Alfa itu. Keduanya langsung memasuki toko buku. Wintang langsung menuju ke lantai dua tempat mereka akan menghabiskan waktu. Sedangkan Alfa mencari buku yang akan ia butuhkan.
"Sekalian nunggu dan bantu Alfa gue mungkin bisa ngerjain projek ini walaupun dikit" gumam Wintang sambil membuka laptopnya
Setelah lima menit menunggu Alfa pun menghampiri Wintang dengan beberapa buku yang dia bawa.
"Nah ini dia, Tang"
"Jadi lo mau minta bantuan apa?"
"Bantuin gue bikin essai yang sempurna. Gue pengen ikut lomba"
"Kan di pedoman ada, Fa"
"Gue ga bisa belajar lewat gituan"
Wintang hanya menggelengkan kepalanya. Alfa yang berdiri disamping Wintang menyimpan buku-bukunya ke meja.
Tak sengaja Alfa melirik ke layar laptop perempuan itu. Tertulis sebuah tulisan besar di monitornya, sebuah judul yang menarik perhatiannya.
"Wuih lo lagi bikin projek?"
Wintang hanya mengankat halisnya tanda iya.
"Bentar deh, soul reunion itu artinya reuni jiwa kan?" tanya lelaki itu yang melihat judul besar pada laptop Wintang
"Iya Alfa"
"Kok berasa deep banget ya, tapi gue ngerasa gak asing, Tang"
"Hah? Ga asing gimana? Lo pernah tau?"
"Tang, gue pernah denger dan baca tentang ini sekali, itu pun dari temen gue. Lo tau tentang twinflame?"
Wintang tak menyangka kalau Alfa tau tentang hal mendalam seperti twinflame yang jarang diektahui banyak orang disekitarnya dan mengingatkan nya pada seseorang. Terlebih lagi hal itu memang bersangkutan dengan apa yang akan ia tulis pada projek bukunya.
"Iya, Fa. Gue tau twinflame. Bahkan gue nemu seseorang yang gue harap jadi twinflem gue"
"Terus?"
"Terus gue salah besar" pikirannya lari pada seseorang yang selalu melekat pada ingatan.
Alfa sangat merasakan perubahan emosi pada perempuan dihadapannya itu. Dia tidak tau apa-apa, tidak tau banyak hal tentang Wintang, namun rasanya cukup tak nyaman melihat Wintang saat itu. Lelaki itu duduk di kursi yang tersedia untuknya, didepan Wintang.
"Lo percaya juga gak, Fa? Tentang twinflame"
"Gue gak tau, Tang. Gue ga tau banyak"
"Katanya, setiap orang punya kembaran jiwanya masing-masing, Fa. Kayak satu jiwa tapi beda raga. Kita bakal kayak lihat diri kita di orang itu. Tapi, itu gak sesederhana konsep kembar biasanya. Twinflame kita bakal menjadi cerminan dari emosi terdalam kita, bisa ketakutan sampe keinginan terbesar. Twinflame itu bukan menyempurnakan dua orang, justru satu orang itu udah sempurna, tapi mereka tumbuh bersama"
Alfa hanya terpelongo mendengar semuanya. Sesuatu tentang teori yang dalam telah ia dengar dari teman perempuan yang belum lama ia kenal itu.
"Apa twinflame itu sama dengan jodoh, Tang"
Wintang tersenyum
"Nggak selalu, Fa. Twinflame bisa merupakan temen, sahabat, adik kaka, dan pasangan"
"Kalo twinflame kita itu pasangan berarti rasanya seru ya, Tang. Ada seseorang yang faham betul kita gimana karena dia adalah kita juga. Iya nggak?"
"Nggak begitu Alfa. Penyatuan twinflame itu suatu kejadian yang dahsyat, twinflame yang ada dalam suatu kisah cinta justru bakal ngalamin hal-hal yang berat. Kisah cinta twinflame bukan kayak kisah romansa pada umunya, tapi penuh lika-liku, sangat"
Semua kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu sangat menarik dan ia fahami satu persatu.
"Saking penuh lika-liku nya, mereka harus menyeimbangkan satu sama lain, Fa. Gak jarang kalo jiwa mereka belum sama-sama mateng, mereka harus berpisah. Dan soul reunion atau reuni jiwa ini adalah salah satu fase dari mereka para pasangan twinflame"
"Jadi, reuni jiwa itu artinya mereka yang tadinya berpisah terus berhasil bertemu lagi?"
"Yap, betul, Fa"
"Lo percaya itu ada, Tang?"
Wintang terdiam, pandangannya ia arahkan keluar. Menatap jauh namun kosong, sungguh sendu terlihat jelas di sepasang mata yang cantik itu.
"Entah, tapi gue pernah menganggap seseorang sebagai twinflame gue, lebih tepatnya mengira. Gue kira hubungan kami yang penuh lika-liku, tapi ternyata emang jalan hidup gue doang"
"Siapa dia, Tang?"
Mmembuka Luka (Bagian 4 - Twinflame)
Sejak saat kamu putuskan untuk pergi, aku selalu terbangun dengan perasaan yang sama. Terbangun dengan sebuah perasaan yang menyubit hati, perih sekali. Sebuah ingatan bahwa "Hari ini, aku sudah tidak bersamamu lagi"
"Aduh kenapa sih kita harus olahraga?" ocehan itu sudah keluar dari mulut Anna mengawali pagi hari yang cerah di kota yang sejuk itu.
"Na, ini masih pagi buat ngeluh tau" ucap sahabatnya, Diva
"Tapi ini kita harus banget apa olahraga nya di depan gymnasium? Kan jauh dari fakultas kita, harus jalan dulu"
"Tau ni lagian pake nanya kenapa harus olahraga, lagian lo mau kalo tulang lo ga sehat karena ga olahraga? Lo mau baru lulus kuliah udah macem nenek gayung? nggak kan?" sambar Wintang
"Apasih ngegas mulu mba helow, kan gue bilang ini jauh Wintang!"
"Ya namanya juga mau olahraga, jadi harus di tempat nya Anna, lo kira bisa olahraga di lab bahasa?"
Pagi itu mereka berjalan bersama menuju sebuah taman didepan gymnasium kampus mereka. Terdapat sebuah taman yang sering dipakai orang-orang untuk berolahraga di hari libur seperti ini. Udara sekitar yang sangat asri karena banyak pohon yang rimbun menambah nyaman nya tempat itu sebagai tempat olahraga.
Ketiga sahabat itu berolahraga sebagaimana orang lain menghabiskan waktu ditempat itu. Hanya butuh waktu 15 untuk mereka berkeringat dan kelelahan, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk dibawah pohon yang rindang.
"Heyyy orang macam apa kalian olahraga gak bawa minum hah?" teriak Anna ketika sadar tak ada satupun diantara mereka yang membawa minum
"Div lo jawab dah tuh, ga ada tenaga buat jawab dia gue" ucap Wintang yang masih kelelahan pada Diva
"Lupa kita juga. Na bentar ya jangan dulu ngomel cape ini"
"Ok sorry" jawab Anna tenang melihat kedua sahabat nya masih terengah engah kelelahan.
Matahari yang mulai bersinar terik tak mampu menyapa langsung kulit ketiga perempuan ini. Rupanya pohon rindang itu melindungi mereka dengan sangat baik. Setiap udara yang dikeluarkan para manusia dan pohon itu terus bertukar dan saling memberi satu sama lain. Kehausan mereka tidak terlalu terasa karena alam mengalihkannya.
"Misi, abis olahraga penting banget loh minum" suara itu terdengar dari balik pohon dibelakang ketiga perempuan itu yang sontak membuat mereka menoleh
"Woy siapa tuh?" Anna reflek berbicara
"Eh maaf ngagetin Teteh Teteh sekalian"
"Maaf?" ucap Diva bingung
Wintang yang tak asing dengan sesosok lelaki yang ia temui dua hari yang lalu di toko buku itu hanya tertawa kecil.
"Kayaknya temennya ini belom kenalin saya ke kalian ya?" ucap Alfa sambil menunjuk Wintang
"Loh, Tang. Lo kenal dia?" tanya Anna bingung
"Haha iya gue kenal, dia Alfa anak Ilmu Keolahragaan. Eh Alfa, lagian kenapa juga gue harus kenalin lo ke mereka dih" jelas Wintang
"Ya kan biar gue nambah temennya banyak, Tang"
"Yaudah buruan kenalan. Tega bikin orang bingung lo ya masa nyapa orang yang gak kenal gitu" omel Witang
"Ohiya kenalin gue Alfa, temen baru nya Wintang. Tadi gue liat kalian abis olahraga tapi gak bawa minum. Mmm karena gue kenal Wintang dan kalian pasti temen deketnya jadi gue bawain nih minum" lelaki berbadan atletis itu memberikan 3 botol air mineral
"Eh gausah repot-repot dong, Fa" ucap Diva merasa kurang enak
"Gapapa, anggap aja ini tugas gue buat ngingetin orang yang olahraga. Sekalian tanda kenalan"
"Yaudah makasih loh ya" ucap Diva lagi
"Oke sama-sama, btw gue ga bisa lama ya temen-temen. Harus latihan, jadi gue pergi duluan ya, bye" lelaki itu pergi meninggalkan Wintang dan sahabat-sahabatnya disana.
Menyisakan Anna dan Diva yang masih sedikit kebingungan, karena tidak biasanya orang asing memberi mereka sesuatu. Lebih kaget lagi kenapa salah satu sahabatnya ini mengenal orang itu, sedangkan mereka belum.
Air yang mereka genggam masing-masing pun diminum, sembari kembali duduk Wintang sudah tau pasti sahabatnya ini akan mengintrogasi dia. Lagi pula dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba Alfa muncul dihadapan mereka. Wintang kira setelah pertemuan dan cerita tentang ruang angkasa hari itu adalah pertemuan yang tak akan ada lagi temu, mengingat setelah mengobrol mereka langsung pulang masing-masing.
"Jadi dia itu siapa Wintang? Maen rahasia-rahasiaan lo hah?" Anna yang memulai pertanyaan
"Pala mu rahasia, gue cuma kenal orang itu doang udah"
"Kenal darimana? Kan fakultas bahasa sama olahraga jauhan"
"Emang nya lo yang maen nya di fakultas doang. Gue ketemu dia di toko buku"
"Terus terus?" tanya Diva
"Ya ga terus terus, kenalan, ngobrol, udah"
"Lah gitu doang?" ucap Anna
"Ya terus harus gimana ih? Muka lo kecewa bener"
"Tapi dia baik banget ini sampe ngasih air" kata Anna
"Nah iya bener" tambah Diva
"Cuy jadi gini, dia anak olahraga, dia tau apa apa soal olahraga termasuk orang kudu minum kalo abis olahraga, nah dia liat kita yang Cuma duduk karena gak bawa minum, daripada dia jadi saksi kasus 3 orang perempuan dehidrasi karena kebodohannya berolahraga tidak membawa minum, jadi dia kasih ini. Anak olahraga lain yang baik hati juga bakal gitu kok" jelas Wintang
Diva tertawa kecil mendengar penjelasan sahabatnya itu, sedangkan Anna justru gemas mendengarnya. Keringat mereka sudah mulai kering, dahaga nya pun terobati oleh air mineral pemberian Alfa. Obrolan dan tawa yang mereka ciptakan satu sama lain membuat pohon rindang ikut tersenyum.
"Eh, Tang. Kepikiran lo sama Alfa bakal kenal jauh gak?" tanya Diva yang tiba-tiba membahas topik mengenai Alfa lagi
"Ya gatau, Div. Biar ngalir aja kayak pertemuan sama pertemanan biasanya"
"Tapi, Tang. Lo gamau apa buka hati buat ngebiarin lelaki masuk?" tanya Anna, percakapan ini mulai tak disukai Wintang
"Kok jadi kesana ya?" tanya Wintang
"Ngga, Tang. Maksud gue, biar lo ga terus-terusan keganggu sama masa lalu lo"
"Na, Div gak ada yang ganggu gue kok. Apapun itu. Dan kenapa gue harus biarin orang lain masuk? Gue gak punya alesan buat itu."
"Tapi kan..."
Diva langsung memegang tangan Anna tanda meminta Anna untuk tidak melanjutkan percakapan itu.
"Gapapa, Tang. Semoga kita cukup buat lo ucap" Diva lembut
"Kalian emang cukup buat gue, jadi jangan bicarain itu lagi ya" pintanya tenang.
Anna dan Diva mengangguk tanda mengerti
"Udah siang juga, kayanya gue harus pulang guys ada yang harus gue kerjain. Gue duluan ya"
Perempuan berambut pendek itu pergi meninggalkan sahabatnya, tak lupa dengan senyuman yang selalu ia berikan.
"Div, gue salah ya?"
"Nggak kok, Na. Wintang yang belum siap, gausah kita dorong-dorong juga sekalipun itu karena kita mau dia bahagia"
***
Kamar sederhana bercat putih dan polos itu merupakan tempat ternyaman bagi Wintang. Disana semua perjalanan di kampusnya itu bermula, disana pula ia dapat bersistirahat dari berbagai hal yang ia lalui setiap hari. Dinding-dinding itu bahkan menjadi teman yang selalu mengetahui apa yang ia ucapkan, kecuali hal-hal yang hanya berputar dikepalanya.
Tentu saja merebahkan diri adalah hal terenak yang dilakukan seusai olahraga. Siang itu matahari semakin menantang, tapi didalam kamar justru semuanya terasa cukup. Sinar matahari itu sangat cukup menemaninya saat membuka matanya dikala siang.
Perempuan itu menjatuhkan dirinya ke kasur, menatap langit-langit putih yang ada di hadapannya. Padahal ia tahu, berdiam diri seperti itu bukanlah hal baik bagi pikirannya. Mengistirahatkan fisiknya hanya akan memicu pikirannya terbangun, yang tak baiknya adalah semua pikiran itu muncul bahkan hingga pikiran yang tak seharusnya dipikirkan lagi.
Kenapa mereka sering menyuruhku membuka hati? Apakah harus? Untuk apa? Untuk menyambut luka baru kah? Ingin rasanya aku mengadu pada kamu. Hei, orang-orang menyruhku membuka hati, mereka tidak tau kalau hati ku sudah kamu bawa. Mereka sering bilang agar aku sembuh dari masa lalu, mereka tidak tau bahwa obat bagi ku cuma kamu.
Apa kamu tau? Aku benci setiap perasaan dikala pagi menyapa, perasaan yang datang setiap aku bangun dari tidur ku. Sebuah perasaan yang tak kunjung usai, sakit sekali rasanya menyadari bahwa kamu sudah tidak lagi untuk ku. Dan itu terus terjadi hampir setiap pagi. Padahal dunia kita masih sama, tapi sekat antara kita kini bagai jarak antara bintang dengan bintang lainnya. Sudah taun ke berapa ini? Tapi duka ku masih saja sama.
Perempuan itu memilih untuk memendam lukanya, berfikir bahwa biar saja sperti ini. Lamunan yang hadir pada dirinya selalu saja mengasilkan air mata. Hanya menulis yang mampu menjadi pereda sakitnya untuk sementara. Mempublish nya dalam sebuah blog, berharap seseorang di sebrang sana membaca dan tahu akan pesan-pesan perihal rasa, luka, hingga rindu itu terarah padanya.
"Sampe kapan gue jadi orang cupu kayak gini?" ucapnya sembari menyenderkan dirinya pada salah satu dinding kamarnya setelah ia mempublish tulisan nya itu ke blog miliknya. Wintang selalu berfikir bahwa dia terlalu cupu untuk menyampaikan pesan ini secara langsung. Pikirannya berbicara kembali, kini hanya sambil menatap atap kamar dengan sisa air mata yang sudah disekatnya.
Membuka Luka (Bagian 3 - Tidak Untuk Sekarang)
"Bisa-bisanya gue nyeletuk soul reunion dan langsung di ‘iya mantepin’ aja sama kang Fahmi. Ah Wintang lo kenapa sih! Emang tau apaan soal itu, yang ada buku lo dianggap aneh. Soul reunion? Apaan reuni jiwa? Ngaco nih gue”
Wanita itu hanya uring-uringan sendiri didepan cermin sebuah toko buku setelah 20 menit ia menempuh perjalanan sesudah menutup telefonnya dari kang Fahmi. Rupanya tuntutan untuk menyelasaikan buku itu membuatnya harus banyak lagi membaca buku. Akhirnya siang itu ia putuskan untuk ke toko buku mencari novel baru.
Wintang memasuki toko dan mulai berjalan diantara rak-rak buku. Keadaan dan cuaca hari itu cukup berbeda dari biasanya, seperti siang namun sejuk menyapa Wintang hingga kedalam toko buku. Belum lama masuk matanya terarah pada sebuah rak buku yang memiliki nomor 11.
Ia mengambil sebuah buku berwarna coklat dengan sampul bergambar sepasang lelaki dan perempuan yang berjudul “Temu”. Ia buka secara random bukunya tepat dihalaman 111, sub judul dari buku tesebut yang bertuliskan “Reuni Jiwa” membuatnya kaget. Baru saja ia berbicara hal yang sama dengan kang Fahmi ditelepon. Wintang menengok jam digital yang tertempel di dinding toko itu, waktu menunjukkan pukul 11:11.
Belum selesai kagetnya, kini ada hal yang membuatnya lebih terkejut ketika sesuatu terbesit dipikirannya. “Wintang mau ketemu seseorang” pikiran itu bagai datang dari alam bawah sadar yang mengetuk alam sadarnya, bagai petir yang menyambar. Hanya butuh hitungan detik dan Wintang menatap ke arah depan, ujung dari rak buku yang saat ini ia berada.
Terlihat seorang lelaki berbadan tegap berkaos hitam pendek dengan jeans panjang sedang berdiri membaca buku juga.
“Deg” hati Wintang bagai tertegur “memangnya seseorang seperti apa dia?” dalam hatinya bertanya dan kebingungan. Sedangkan lelaki itu mersakan ada seseorng yang menatapnya, pandangannya dari buku bacaan beralih kepada Wintang.
Mengabaikan pertanyaan yang muncul dikepalanya Wintang buru-buru menyimpan buku yang ia pegang dan beranjak pergi ke rak buku lain. Sepertinya ia merasa tidak enak karena telah dipergoki menatap seseorang oleh orang itu sendiri. Namun ia melupakan buku yang seharusnya menjadi bacaan dia itu.
“Kenapa gue kayak pencopet yang kabur sih? Mana buku nya lupa gue bawa, sekarang malah harus nyari yang lain” ocehan perempuan itu dengan nada pelan. Akhirnya dia mengambil beberapa buku tentang filososfi untuk ia fahami, dan buku-buku fantasi kesukaannya untuk ia baca sebagai reward yang menyenangkan hati.
Kaki kecilnya membawa ia ke lantai 2 toko itu, tempat dimana para pembaca bisa membaca setiap buku dengan nyaman. Dengan meja dan kursi yang tertata rapih, Wintang mengambil tempat yang ada di sisi ruangan itu yang semuanya terbuat dari kaca sehingga dia bisa sesekali melihat ke luar memandangi kendaraan yang lalu lalang.
“Teh, saya boleh ikut duduk disini” tanya seorang pria pada Wintang
“Ohiya silahka...” belum selesai kalimatnya, Wintang kaget ketika ia menengok ternyata pria itu adalah orang yang ia tatap tadi
“Eh Teteh yang tadi di rak depan itu ya?” sambung pria itu sembari duduk di bangku kosong didepan Wintang, kini hanya sebuah meja bulat yang ada diantara mereka berdua.
“Ah, iya betul” Wintang kikuk dibuatnya
“Kok saya berasa pernah kenal sama Teteh, ya?”
Belum apa-apa Wintang dibuat bingung kenal apaan, emang nya lo siapa?janga-jangan ini modus laki laki buaya darat lagi gumamnya dalam hati.
“Masa sih Mas? Kan baru ketemu saya sekarang”
“Ya saya juga gatau, Teh. Eh ini beneran saya boleh ikut duduk disini? Soalnya ini tempat duduk favorit saya disini”
Wintang langsung menepis pikiran jeleknya terhadap orang itu, mencoba untuk berprasangka baik.
“Iya Mas gapapa kok lagian itu kosong”
“Makasih ya, Teh”
Mereka hanya membaca dan melakukan aktivitasnya masing-masing seperti orang asing yang beretemu di tempat umum pada biasanya. Sampai salah satu dari mereka merasa tidak nyaman dan memulai percakapan lagi.
Lelaki itu melihat tumpukan buku fantasi milik Wintang diatas meja.
“Mmm Teh, suka cerita fantasi ya?”
Wintang tetaplah Wintang yang baik hati dan ramah juga mudah berteman.
“Ohiya mas, saya suka banget cerita fantasi. Kenapa? Mas nya juga?”
“Nggak sih Teh, saya gak punya selera buku, saya Cuma baca apa aja yang saya mau”
“Kok bisa ya, agak aneh Mas nya haha”
“Ya emang begitu Teh. Ngomong-ngomong Teteh asli Bandung bukan?”
“Bukan Mas, saya mahasiswa rantau”
“Oh Teteh nya mahasiswa juga.”
“Haha iya Mas”
Dalam hatinya, Wintang risih sekali dipanggil dengan sebutan Teteh oleh seseorang yang terlihat seumuran dengan nya itu. Panggilan khas sunda kepada perempuan itu dan logat yang mendayu sudah bisa membuat Wintang menebak bahwa lelaki ini pasti asli sunda.
“Semester berapa Teh?”
“Semester 6 Mas”
“Wah sama dong, ternyata kita seumuran.”
“Nah bagus! Jadi gausah panggil gue Teteh ya”
Lelaki itu kaget karena gaya bicara perempuan yang dari tadi dia ajak ngobrol langsung berbeda
“Wah haha kenapa gak bilang dari tadi, jangan panggil gue Mas juga ya”
Keduanya hanya tertawa kecil mengetahui tingkah yang dijaga satu sama lain terhadap orang yang belum dikenal, tapi ternyata bisa satu frekuensi.
“Yaudah yaudah berarti sepakat yak ngobrol santai nih kita” ucap lelaki itu
“Iya iya ini santai” jawab Wintang sambil tersenyum
“Gue belom tau nama lo malah, mahasiswa jurusan apa?”
“Gue Wintang Ardiyaksa, panggil aja Wintang. Gue jurusan Bahasa dan Sasta Indonesia”
“Wah anak bahasa emang suka baca-baca buku gini ya?”
“Gak juga sih, gua baca biar bisa nulis aja”
“Kenalin, gue Alfa Sena Tauri, mahasiswa Ilmu Keolahragaan” ucap nya sambil mengulurkan tangan yang tak disambut oleh Wintang.
Perempuan itu cukup kaget mendengar nama lelaki itu
“Alfa atau alpha?”
“Alfa ya bukan Alpha. Ini jabat tangan dulu biar resmi kenalan nya”
Wintang langsung menyambut uluran tangan Alfa. Pikiran nya masi terkaget kenapa lelaki itu punya nama mirip dengan nama sebuah bintang. Ya, bintang Alpha Centauri yang sangat ia sukai hingga ia pinjam namanya sebagai nickname nya. Sebuah nama yang memiliki begitu banyak cerita.
Tapi perempuan itu menepis pikirannya, ini hanyalah seorang lelaki biasa yang baru ia temuai hari itu. Tidak ada hubungan apapun dengan bintang kesukaannya atau apapun.
“Lo suka benda angkasa ya?” tanya Alfa menghentikan lamunan singkat Wintang
“Ah, iya. Kok lo tau?” perempuan ini sangat excited jika seseorang bertanya tentang hal itu
“Soalnya lo tanya nama gue Alfa atau Alpha, pasti kepikiran soal nama bintang”
Pikirannya tertebak oleh seorang lelaki yang ada dihadapannya. Tak peduli itu, Wintang senang jika mendapat seorang yang mengerti akan kesukaannya itu.
“Iya gue suka banget, sering baca soal benda luar angkasa atau ikutin ceritas fiksi nya, lo suka juga?”
“Mmm kayaknya sama kayak buku bacaan deh, ga ada hal yang gua favoritin gitu selain olahraga kayak nya haha”
“Yahh” Wintang sedikit kecewa
“Eh tapi lo bisa bagi cerita ga tentang itu? Gue seneng banget denger orang cerita tentang apa yang mereka suka. Gue jadi bayangin gimana rasanya punya hal yang disuka” lelaki itu sangat antusias meminta Wintang bercerita
“Serius? Gue seneng banget kalo ada tempat cerita. Haha gue bakal cerita sampe lo bosen ya” perasaannya kembali senang
Siang itu mereka habiskan dengan cerita Wintang tentang benda-benda angkasa yang ia sukai, tentang cerita-ceita fiksi mengenai bintang-bintang. Bahkan dari obrolan panjang itu ternyata mereka berdua adalah mahasiswa dari kampus yang sama. Benar kata Alfa, dia seperti mengenal Wintang sudah lama meskipun secara nyata ia baru bertemu dengan nya hari itu.
Membuka Luka (Bagian 2 - Temu)
Langit malam selalu tampil elegeant, baik dengan para bintang maupun tidak. Juga jutaan rahasia dibalik kedamaiannya yang sering sekali makhluk bumi cari tahu kebenarannya. Mulai dari tentang para bintang, planet, galaxy, hingga cerita dibalik setiap kejadiannya. Sebagian dari kita, adalah mereka yang memahami spiritual lebih dalam, mengenal istilah starseed. Orang orang istimewa yang berasal dari bintang dan turun ke bumi, katanya.
Terlepas dari nyata atau tidak, seorang perempuan yang selalu jatuh cinta pada benda luar angkasa selalu menggenggam cerita tentang starseed ini. Seorang perempuan lembut dengan hati bagai lautan dan kepalanya yang berisi banyak hal fantasi seluas alam semesta, yang menyimpan banyak sekali perasaan dalam dirinya.
"kriiiing!"
Suara alarm membangunkan perempuan itu dari tidurnya. Wintang Ardiyaksa, mematikan jam beker nya yang berdering dan cukup untuk membuatnya beranjak dari tempat tidurnya. Sebuah kostan sederhana didekat kampusnya menjadi tempat perempuan perantau ini tinggal. Menimba ilmu di kota Bandung yang lumayan jauh dari kediaman asalnya di Palu membuat perempuan ini harus hidup secara mandiri.
Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya, namun udara di kota kembang ini memang selalu sejuk dan masih terasa dingin. Wintang bergegas menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hanya butuh saktu 8 menit dengan berjalan kaki untuk Wintang tiba di Fakultasnya. Mahasiswa semester 6 ini selalu datang ke kelasnya dengan wajah yang berseri tanpa lupa menghampiri terlebih dahulu kedua sahabatnya yang selalu datang lebih dulu Anna dan Diva.
"Pagiiii sayang sayangku" sapa Wintang dengan semangat sambil merangkul kedua sahabatnya yg sedang duduk bersebelahan di dalam kelas.
"Baru dateng ya tuan putri" jawab Anna singkat
"Iya dong, tapi gue gak kesiangan kan hari ini, yeayy"
"Iya tumben, gak begadang lagi kayak biasa?" tanya Diva
"Nggak, malem tadi gue lagi males baca jadi gak baca apa-apa sampe begadang, Div"
"Ada malesnya juga ya ternyata, kirain saking sukanya sama bintang-bintangan ga akan sampe absen baca" ucap Diva
"Hmm iya juga ya"
"Kenapa lo gak masuk jurusan astronomi aja sih, Tang?" tanya Anna dengan jutek nya yang khas
"Kalo di astronomi mana bisa gue bikin frasa-frasa sama puisi, wleee" Wintang menjulukan lidahnya tanda mengejek
"Yaemang lo masuk jurusan ini buat bikin frasa sama puisi doang apa?" timpal Anna
"Iya biar lo seneng baca puisi kalo suatu saat teman lo ini jadi penulis puisi sama frasa terbaik di dunia"
"Dih pede banget"
Diva hanya menggelengkan kepala meliat kedua sahabatnya sepagi ini sudah mulai berdebat kecil. Kebiasaan Anna dan Wintang yang sering berdebat selalu menjadi tugas Diva untuk menjadi penengahnya.
***
"Mau langsung pulang atau ke kantin?" tanya Anna kepada kedua sahabatnya setelah jam mata kuliah hari itu berakhir
"Kantin yu, gue laper" jawab Diva
Yang menjadikan ketiga mahasiswi ini tidak menjadi mahasiswi yang kuliah pulang kuliah pulang adalah setelah kuliah mereka pergi ke kantin, memang tidak langsung pulang. Mereka mulai beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin, akan tetapi rupanya diri Wintang ter notice seseoroang yang sedang berdiam di salah satu sisi kelas, telihat termenung seperti sedang ada sesuatu yang ia pikirkan.
"Kalian duluan aja deh, nanti gue nyusul gue mau ke Tia dulu ada perlu" pinta Wintang kepada shabatanya sambil menunjukan ke arah orang yang sedang termenung itu. Keduanya tak banyak menjawab dan menuju kantin duluan sesuai dengan permintaan Wintang.
Wintang menghampiri salah seorang teman kelas nya itu. Dia bisa saja meninggalkan siapapun yang ada dikelas. Akan tetapi perasaan nya selalu ikut tak enak apabila ada seseorang sedang bersedih disekitarnya, empati yang dimiliki perempuan ini memang sangatlah tinggi.
"Tia Tiaa, gue mau nyoba filter baru di insta story nih lo juga coba bareng gue ya" ucap Wintang sambil mengarahkan kamera ponsel nya itu kepada dirinya dan Tia yang sontak membuat Tia tersenyum agar terlihat cantik dikamera.
"Wah bagus nih Ti gue nya cantik"
Tia hanya tertawa melihat Wintang, dia faham betul apa yang sedang temannya itu lakukan.
"Loh kok lo ketawa Ti?"
"Tang, lo tuh paling peka ya kalo orang kenapa napa. Gue tau kok kalo maksud lo tadi karena liat gue murung dan biar senyum" ujar Tia
Wintang tesenyum melihat suasana hati Tia yang membaik dan dapat terlihat dari wajahnya itu.
"Syukur kalo lo baikkan Tia, emangnya ada apa sih? Lo mau dan bisa cerita?"
"Lo selalu jadi yang pertama kalo nolong orang, Tang. Susah cari orang yang tepat untuk jadi tempat cerita, tapi lo mampu"
Hari itu, Tia bercerita masalahnya kepada Wintang yang excited dalam mendengarkan orang lain berbicara dan selalu punya jawaban yang mampu membuat lebih tenang.
Wintang selalu memiliki cara untuk menyembuhkan orang lain. Dia tak pernah meminta untuk orang lain bercerita, tetapi menawarkan dengan nada begitu lembut dan menyejukkan yang akhirnya membuat orang lain selalu merasa aman dan terobati. Perempuan ini memang hobby menebarkan energi posistif pada setiap orang.
***
Wintang berjalan menghapiri kedua sahabatnya yang tengah duduk dikursi kantin dan ikut duduk dikursi yang sudah mereka sediakan untuknya.
"Gimana kali ini Wintang Ardiyaksa sang healer?" goda Anna padanya
"Ih apaan sih lo ah"
"Lo abis nyembuhin perasaan orang lagi kan? Gimana tadi Tia?" Anna sangat faham apa yang telah Wintang lakukan
"Gue rasa sih dia udah baikan barusan, gue juga udah berasa enakan"
"Lo tu dukun atau apa sih, Tang?" celetuk Anna asal
"Lah kok dukun sih, bener-bener ngaco nih orang,mana ada dukun sih" sangkal Wintang sembari agak kaget
"Ya lagian lu tau banget perasaan orang, abis itu selalu bisa bikin dia lebih baik"
Diva yang dari tadi hanya diam kini ikut berbicara
"Menurut gue sih Wintang tuh cuma tulus aja sih care nya. Jujur ya, Tang gue juga gak apatis amat sih tapi kalo mau bantu orang masih mikir, sedangkan lo bisa-bisanya spontan"
"Hmm...ga segitunya juga mungkin, Div" jawab Wintang
"Merendah mulu lo, biasanya depan kita gak jaim" sambar Anna
"Yee sembarangan, ini gue beneran gak lagi jaim ngapain juga depan kalian jaim" sangkal Wintang
Sembari medengarkan omongan sahabat-sahabatnya Wintang merenung, hingga berbica kembali "Gue cuma, tau aja kalo orang yang dalam keadaan sulit itu ga enak. Ya kalian juga pasti tau, cuma gue selalu terusik sama pikiran gue sendiri kalo gue tau orang butuh pertolongan tapi gue ga bisa apa-apa. Gue juga tau kok kalau keadaan sulit itu justru ajang belajar setiap orang, jadi gue ga akan ganggu proses itu dan biarin orang orang nikmatin pembelajaran nya, sampe gue mikir kalo udah waktunya gue lakuin sesuatu, sekecil apapun itu."
Anna dan Diva hanya terdiam mendengar ucapan Wintang.
"Tang, saking sering debatnya lo sama gue, gue sampe lupa kalo lo seorang dewasa, penulis blog yang tulisannya orang sukai juga. Makanya gue suka kaget kalo lo bisa ngomong kayak gini, harusnya ga aneh lagi ya" ucap Anna pada temannya itu
"Yang lo inget cuma keributan doang sih, Na. Udah yu pulang, lo ingetin soal blog gue jadi kepikiran projek kang Fahmi nih"
"Projek sama kang Fahmi itu buku atau apa, Tang?" tanya Diva
"Rencananya sih buku, doain aja ya. Sekarang penerbit itu pasti udah ngomel nanyain ide, padahal gue buntu banget. Untung sodara"
***
Memandangi tembok kosan yang polos merupakan cara Wintang berfikir ketika ide nya buntu. Menulis blog tentang cerita fiksi dan kumpulan frasa tentu berbeda dengan membuat sebuah buku apalagi dimintai oleh orang lain, bukan kemauan yang muncul dalam dirinya sendiri.
Merasa tak menghasilkan apaun, Wintang membuka laptopnya dan melihat-lihat tulisan yang ada di blog miliknya. Blog bernama alphacentauris itu berisi tulisan yang selalu mengalir begitu saja ketika dia mengetik dan menerbitkannya. Semua tulisan yang ada didalam blog itu adalah tentang perasaan yang dia genggam, tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan namun tak pernah bisa, kepada seseorang yang bayangan nya sering muncul dikepala Wintang, namun selalu dia sangkal. Matanya menatap layar laptopnya, menyelami setiap tulisan yang ia buat sendiri.
Alphacentauris, kenapa aku masih pakai nama ini? Kenapa aku masih nulis semua ini? Aku harap pertanyaan itu muncul dari kamu. Karena itu berarti kamu sadar akan semua pesan dan tentang perasaan yang ku tulis disini, itu semua untuk kamu. Bukannya tak peduli jika diri ini harus sakit karena terus memanggil memori dan tak membiarkan rasa ku hilang. Tapi ini adalah cara yang lebih baik dibanding aku harus membiarkan pikiran ku yang sangat berisik, menulis adalah caraku mencapai kedamaian pikiran, walau hanya sementara.
"Triiiiing"
Suara telepon membangunkannya dari lamunan yang hanya mengingatkan dia dari kesedihannya itu. Kang Fahmi, saudaranya asal Bandung yang merupakan penerbit buku itu menelpon keponakannya untuk membahas projek yang harus dibuat oleh Wintang.
"Halo, Tang. Gimana progres bukunya?"
"Hehe masih stuck kang belom ada perkembangan"
"Kamu ya, publish tulisan di blog aja rajin"
"Hmm... beda cerita dong Kang"
"Apa yang susah dari bukunya sih Wintang? Tulisan mu di blog udah bagus, kamu tinggal tulis untuk buku"
Wintang mulai menarik nafas panjang
"Wintang harus nulis apa ya kang?" tanyanya memelas
"Tang, bayangin aja kayak kamu lagi nulis blog"
Tapi bagi Wintang tulisan di blog nya itu adalah penghantar pikirannya kepada seseorang dimasa lalu yang menyayat hatinya. Menulis lebih banyak hal yang disamakan dengan saat menulis blog, artinya dia harus lebih dalam dan lebih lama lagi menempatkan perasaannya dimasa lalu. Wintang hanya memandang dinding didepan dirinya sambil memikirkan hal itu, sedangkan kang Fahmi masih melanjutkan ucapannya.
"Coba deh, sekarang ini apa yang lagi Wintang pengenin atau bayangin?"
Matanya masih kosong memandangi dinding, pikiran dan perasaan nya tak karuan.
"Halo Wintang?"
Masih belum sepenuhnya terbangun dari lamunan, Wintang menjawab pertanyaan dari kang Fahmi
"Wintang mau, 'soul reunion' "
Membuka Luka (Bagian 1- Alpha Centauris)
Pernah ada yang mengatakan bahwa seseorang yang kamu cintai diusia 16 tahun adalah orang yang akan mempengaruhi hidup mu? Apa itu terjadi dikamu? Untukku, itu adalah nyata. Ya, sesorang itu mempengaruhi hidup ku, sangat jauh. Sayangnya, tak hanya perihal suka tapi banyak luka menyelip disana.
Dia hadir dan melekatkan banyak sekali kenangan hingga saat ini. Ku kira waktu akan mengikis habis rasa kepada pemiliknya yang telah lama pergi. Tetapi, kadang sesuatu yang memilih untuk dipendam tak akan berubah. Terkadang luka harus dibuka dan dilihat kembali jika memang ingin benar-benar disembuhkan.
Kamu percaya teori tentang Twinflame? atau teori tentang Starseed? mereka adalah teori fantasi yang mungkin tak nyata, sama seperti seseorang yang ku anggap twinflame ku sekaligus seorang starseed yang aku cintai. Seseorang yang hadir sebagai bahagia terbesar, sekaligus luka terbesar ku.
Surat Untuk Makhluk Bintang Kesayanganku, Sirian.
Aku belum sembuh, tapi ku pastikan aku akan sembuh.
Aku telah melewati banyak masa pahit, tapi ditinggalkan mu ternyata adalah hal yang lebih pahit lagi.
Tak apa, itu adalah pilihan mu, dan ini adalah proses bagi ku.
Mengingat seberapa banyak hal dan masalah yang sudah kita lewati,
Menyadari betapa aku menyayangi mu, ku harap kamu tidak menemukan cinta seperti ku lagi,
temukan yang kamu mau.
Setulus hati rasa ini ku rawat dengan baik dan tumbuh dengan besar,
ku jaga kala badai itu datang menghampiri walau banyak dari diri ku yang habis terkoyak.
Mendukung mu kala impian mu baik,
Mengembangkan diri ku agar sama-sama menjadi orang hebat nantinya bersama mu.
Walau sempat akhir-akhir ini kamu pertanyakan padaku, apa aku mau berjuang bersama?
dan seperti apa berjuang bersama itu?
Aku tertawa kecil, ku pikir tak apa, mungkin kamu hanya sedang lupa apa yang pernah kita lalui
Ini adalah aku, orang yang selalu menunggu pesan dari mu
Sesekali mengganggu walau tahu dimana kamu sedang berada.
Sesekali aku mengingat wish list yang pernah kita buat,
wish list yang tak pernah aku buat dengan siapapun atau mungkin
tak bisa lagi aku buat dengan orang lain.
Sempat ku baca lagi pesan-pesan cinta penuh harap yang pernah kamu kirim,
senyum ku terukir, mata ku berlinang kembali




