• Kamis, 25 Juni 2020


    Langit malam selalu tampil elegeant, baik dengan para bintang maupun tidak. Juga jutaan rahasia dibalik kedamaiannya yang sering sekali makhluk bumi cari tahu kebenarannya. Mulai dari tentang para bintang, planet, galaxy, hingga cerita dibalik setiap kejadiannya. Sebagian dari kita, adalah mereka yang memahami spiritual lebih dalam, mengenal istilah starseed. Orang orang istimewa yang berasal dari bintang dan turun ke bumi, katanya.

    Terlepas dari nyata atau tidak, seorang perempuan yang selalu jatuh cinta pada benda luar angkasa selalu menggenggam cerita tentang starseed ini. Seorang perempuan lembut dengan hati bagai lautan dan kepalanya yang berisi banyak hal fantasi seluas alam semesta, yang menyimpan banyak sekali perasaan dalam dirinya.

    "kriiiing!"

    Suara alarm membangunkan perempuan itu dari tidurnya. Wintang Ardiyaksa, mematikan jam beker nya yang berdering dan cukup untuk membuatnya beranjak dari tempat tidurnya. Sebuah kostan sederhana didekat kampusnya menjadi tempat perempuan perantau ini tinggal. Menimba ilmu di kota Bandung yang lumayan jauh dari kediaman asalnya di Palu membuat perempuan ini harus hidup secara mandiri.

    Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya, namun udara di kota kembang ini memang selalu sejuk dan masih terasa dingin. Wintang bergegas menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hanya butuh saktu 8 menit dengan berjalan kaki untuk Wintang tiba di Fakultasnya. Mahasiswa semester 6 ini selalu datang ke kelasnya dengan wajah yang berseri tanpa lupa menghampiri terlebih dahulu kedua sahabatnya yang selalu datang lebih dulu Anna dan Diva.

    "Pagiiii sayang sayangku" sapa Wintang dengan semangat sambil merangkul kedua sahabatnya yg sedang duduk bersebelahan di dalam kelas.

    "Baru dateng ya tuan putri" jawab Anna singkat

    "Iya dong, tapi gue gak kesiangan kan hari ini, yeayy"

    "Iya tumben, gak begadang lagi kayak biasa?" tanya Diva

    "Nggak, malem tadi gue lagi males baca jadi gak baca apa-apa sampe begadang, Div"

    "Ada malesnya juga ya ternyata, kirain saking sukanya sama bintang-bintangan ga akan sampe absen baca" ucap Diva

    "Hmm iya juga ya"

    "Kenapa lo gak masuk jurusan astronomi aja sih, Tang?" tanya Anna dengan jutek nya yang khas

    "Kalo di astronomi mana bisa gue bikin frasa-frasa sama puisi, wleee" Wintang menjulukan lidahnya tanda mengejek

    "Yaemang lo masuk jurusan ini buat bikin frasa sama puisi doang apa?" timpal Anna

    "Iya biar lo seneng baca puisi kalo suatu saat teman lo ini jadi penulis puisi sama frasa terbaik di dunia"

    "Dih pede banget"

    Diva hanya menggelengkan kepala meliat kedua sahabatnya sepagi ini sudah mulai berdebat kecil. Kebiasaan Anna dan Wintang yang sering berdebat selalu menjadi tugas Diva untuk menjadi penengahnya.

    ***

    "Mau langsung pulang atau ke kantin?" tanya Anna kepada kedua sahabatnya setelah jam mata kuliah hari itu berakhir

    "Kantin yu, gue laper" jawab Diva

    Yang menjadikan ketiga mahasiswi ini tidak menjadi mahasiswi yang kuliah pulang kuliah pulang adalah setelah kuliah mereka pergi ke kantin, memang tidak langsung pulang. Mereka mulai beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin, akan tetapi rupanya diri Wintang ter notice seseoroang yang sedang berdiam di salah satu sisi kelas, telihat termenung seperti sedang ada sesuatu yang ia pikirkan.

    "Kalian duluan aja deh, nanti gue nyusul gue mau ke Tia dulu ada perlu" pinta Wintang kepada shabatanya sambil menunjukan ke arah orang yang sedang termenung itu. Keduanya tak banyak menjawab dan menuju kantin duluan sesuai dengan permintaan Wintang.

    Wintang menghampiri salah seorang teman kelas nya itu. Dia bisa saja meninggalkan siapapun yang ada dikelas. Akan tetapi perasaan nya selalu ikut tak enak apabila ada seseorang sedang bersedih disekitarnya, empati yang dimiliki perempuan ini memang sangatlah tinggi.

    "Tia Tiaa, gue mau nyoba filter baru di insta story nih lo juga coba bareng gue ya" ucap Wintang sambil mengarahkan kamera ponsel nya itu kepada dirinya dan Tia yang sontak membuat Tia tersenyum agar terlihat cantik dikamera.

    "Wah bagus nih Ti gue nya cantik"

    Tia hanya tertawa melihat Wintang, dia faham betul apa yang sedang temannya itu lakukan.

    "Loh kok lo ketawa Ti?"

    "Tang, lo tuh paling peka ya kalo orang kenapa napa. Gue tau kok kalo maksud lo tadi karena liat gue murung dan biar senyum" ujar Tia

    Wintang tesenyum melihat suasana hati Tia yang membaik dan dapat terlihat dari wajahnya itu.
    "Syukur kalo lo baikkan Tia, emangnya ada apa sih? Lo mau dan bisa cerita?"

    "Lo selalu jadi yang pertama kalo nolong orang, Tang. Susah cari orang yang tepat untuk jadi tempat cerita, tapi lo mampu"

    Hari itu, Tia bercerita masalahnya kepada Wintang yang excited dalam mendengarkan orang lain berbicara dan selalu punya jawaban yang mampu membuat lebih tenang.

    Wintang selalu memiliki cara untuk menyembuhkan orang lain. Dia tak pernah meminta untuk orang lain bercerita, tetapi menawarkan dengan nada begitu lembut dan menyejukkan yang akhirnya membuat orang lain selalu merasa aman dan terobati. Perempuan ini memang hobby menebarkan energi posistif pada setiap orang.

    ***

    Wintang berjalan menghapiri kedua sahabatnya yang tengah duduk dikursi kantin dan ikut duduk dikursi yang sudah mereka sediakan untuknya.

    "Gimana kali ini Wintang Ardiyaksa sang healer?" goda Anna padanya

    "Ih apaan sih lo ah"

    "Lo abis nyembuhin perasaan orang lagi kan? Gimana tadi Tia?" Anna sangat faham apa yang telah Wintang lakukan

    "Gue rasa sih dia udah baikan barusan, gue juga udah berasa enakan"

    "Lo tu dukun atau apa sih, Tang?" celetuk Anna asal

    "Lah kok dukun sih, bener-bener ngaco nih orang,mana ada dukun sih" sangkal Wintang sembari agak kaget

    "Ya lagian lu tau banget perasaan orang, abis itu selalu bisa bikin dia lebih baik"

    Diva yang dari tadi hanya diam kini ikut berbicara

    "Menurut gue sih Wintang tuh cuma tulus aja sih care nya. Jujur ya, Tang gue juga gak apatis amat sih tapi kalo mau bantu orang masih mikir, sedangkan lo bisa-bisanya spontan"

    "Hmm...ga segitunya juga mungkin, Div" jawab Wintang

    "Merendah mulu lo, biasanya depan kita gak jaim" sambar Anna

    "Yee sembarangan, ini gue beneran gak lagi jaim ngapain juga depan kalian jaim" sangkal Wintang

    Sembari medengarkan omongan sahabat-sahabatnya Wintang merenung, hingga berbica kembali "Gue cuma, tau aja kalo orang yang dalam keadaan sulit itu ga enak. Ya kalian juga pasti tau, cuma gue selalu terusik sama pikiran gue sendiri kalo gue tau orang butuh pertolongan tapi gue ga bisa apa-apa. Gue juga tau kok kalau keadaan sulit itu justru ajang belajar setiap orang, jadi gue ga akan ganggu proses itu dan biarin orang orang nikmatin pembelajaran nya, sampe gue mikir kalo udah waktunya gue lakuin sesuatu, sekecil apapun itu."

    Anna dan Diva hanya terdiam mendengar ucapan Wintang.

    "Tang, saking sering debatnya lo sama gue, gue sampe lupa kalo lo seorang dewasa, penulis blog yang tulisannya orang sukai juga. Makanya gue suka kaget kalo lo bisa ngomong kayak gini, harusnya ga aneh lagi ya" ucap Anna pada temannya itu

    "Yang lo inget cuma keributan doang sih, Na. Udah yu pulang, lo ingetin soal blog gue jadi kepikiran projek kang Fahmi nih"

    "Projek sama kang Fahmi itu buku atau apa, Tang?" tanya Diva

    "Rencananya sih buku, doain aja ya. Sekarang penerbit itu pasti udah ngomel nanyain ide, padahal gue buntu banget. Untung sodara"

    ***

    Memandangi tembok kosan yang polos merupakan cara Wintang berfikir ketika ide nya buntu. Menulis blog tentang cerita fiksi dan kumpulan frasa tentu berbeda dengan membuat sebuah buku apalagi dimintai oleh orang lain, bukan kemauan yang muncul dalam dirinya sendiri.

    Merasa tak menghasilkan apaun, Wintang membuka laptopnya dan melihat-lihat tulisan yang ada di blog miliknya. Blog bernama alphacentauris itu berisi tulisan yang selalu mengalir begitu saja ketika dia mengetik dan menerbitkannya. Semua tulisan yang ada didalam blog itu adalah tentang perasaan yang dia genggam, tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan namun tak pernah bisa, kepada seseorang yang bayangan nya sering muncul dikepala Wintang, namun selalu dia sangkal. Matanya menatap layar laptopnya, menyelami setiap tulisan yang ia buat sendiri.

    Alphacentauris, kenapa aku masih pakai nama ini? Kenapa aku masih nulis semua ini? Aku harap pertanyaan itu muncul dari kamu. Karena itu berarti kamu sadar akan semua pesan dan tentang perasaan yang ku tulis disini, itu semua untuk kamu. Bukannya tak peduli jika diri ini harus sakit karena terus memanggil memori dan tak membiarkan rasa ku hilang. Tapi ini adalah cara yang lebih baik dibanding aku harus membiarkan pikiran ku yang sangat berisik, menulis adalah caraku mencapai kedamaian pikiran, walau hanya sementara.

    "Triiiiing"

    Suara telepon membangunkannya dari lamunan yang hanya mengingatkan dia dari kesedihannya itu. Kang Fahmi, saudaranya asal Bandung yang merupakan penerbit buku itu menelpon keponakannya untuk membahas projek yang harus dibuat oleh Wintang.

    "Halo, Tang. Gimana progres bukunya?"

    "Hehe masih stuck kang belom ada perkembangan"

    "Kamu ya, publish tulisan di blog aja rajin"

    "Hmm... beda cerita dong Kang"

    "Apa yang susah dari bukunya sih Wintang? Tulisan mu di blog udah bagus, kamu tinggal tulis untuk buku"

    Wintang mulai menarik nafas panjang

    "Wintang harus nulis apa ya kang?" tanyanya memelas

    "Tang, bayangin aja kayak kamu lagi nulis blog"

    Tapi bagi Wintang tulisan di blog nya itu adalah penghantar pikirannya kepada seseorang dimasa lalu yang menyayat hatinya. Menulis lebih banyak hal yang disamakan dengan saat menulis blog, artinya dia harus lebih dalam dan lebih lama lagi menempatkan perasaannya dimasa lalu. Wintang hanya memandang dinding didepan dirinya sambil memikirkan hal itu, sedangkan kang Fahmi masih melanjutkan ucapannya.

    "Coba deh, sekarang ini apa yang lagi Wintang pengenin atau bayangin?"

    Matanya masih kosong memandangi dinding, pikiran dan perasaan nya tak karuan.

    "Halo Wintang?"

    Masih belum sepenuhnya terbangun dari lamunan, Wintang menjawab pertanyaan dari kang Fahmi

    "Wintang mau, 'soul reunion' "

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Alpha Centauris - Powered by Blogger - Designed by Edogawa -