"Bisa-bisanya gue nyeletuk soul reunion dan langsung di ‘iya mantepin’ aja sama kang Fahmi. Ah Wintang lo kenapa sih! Emang tau apaan soal itu, yang ada buku lo dianggap aneh. Soul reunion? Apaan reuni jiwa? Ngaco nih gue”
Wanita itu hanya uring-uringan sendiri didepan cermin sebuah toko buku setelah 20 menit ia menempuh perjalanan sesudah menutup telefonnya dari kang Fahmi. Rupanya tuntutan untuk menyelasaikan buku itu membuatnya harus banyak lagi membaca buku. Akhirnya siang itu ia putuskan untuk ke toko buku mencari novel baru.
Wintang memasuki toko dan mulai berjalan diantara rak-rak buku. Keadaan dan cuaca hari itu cukup berbeda dari biasanya, seperti siang namun sejuk menyapa Wintang hingga kedalam toko buku. Belum lama masuk matanya terarah pada sebuah rak buku yang memiliki nomor 11.
Ia mengambil sebuah buku berwarna coklat dengan sampul bergambar sepasang lelaki dan perempuan yang berjudul “Temu”. Ia buka secara random bukunya tepat dihalaman 111, sub judul dari buku tesebut yang bertuliskan “Reuni Jiwa” membuatnya kaget. Baru saja ia berbicara hal yang sama dengan kang Fahmi ditelepon. Wintang menengok jam digital yang tertempel di dinding toko itu, waktu menunjukkan pukul 11:11.
Belum selesai kagetnya, kini ada hal yang membuatnya lebih terkejut ketika sesuatu terbesit dipikirannya. “Wintang mau ketemu seseorang” pikiran itu bagai datang dari alam bawah sadar yang mengetuk alam sadarnya, bagai petir yang menyambar. Hanya butuh hitungan detik dan Wintang menatap ke arah depan, ujung dari rak buku yang saat ini ia berada.
Terlihat seorang lelaki berbadan tegap berkaos hitam pendek dengan jeans panjang sedang berdiri membaca buku juga.
“Deg” hati Wintang bagai tertegur “memangnya seseorang seperti apa dia?” dalam hatinya bertanya dan kebingungan. Sedangkan lelaki itu mersakan ada seseorng yang menatapnya, pandangannya dari buku bacaan beralih kepada Wintang.
Mengabaikan pertanyaan yang muncul dikepalanya Wintang buru-buru menyimpan buku yang ia pegang dan beranjak pergi ke rak buku lain. Sepertinya ia merasa tidak enak karena telah dipergoki menatap seseorang oleh orang itu sendiri. Namun ia melupakan buku yang seharusnya menjadi bacaan dia itu.
“Kenapa gue kayak pencopet yang kabur sih? Mana buku nya lupa gue bawa, sekarang malah harus nyari yang lain” ocehan perempuan itu dengan nada pelan. Akhirnya dia mengambil beberapa buku tentang filososfi untuk ia fahami, dan buku-buku fantasi kesukaannya untuk ia baca sebagai reward yang menyenangkan hati.
Kaki kecilnya membawa ia ke lantai 2 toko itu, tempat dimana para pembaca bisa membaca setiap buku dengan nyaman. Dengan meja dan kursi yang tertata rapih, Wintang mengambil tempat yang ada di sisi ruangan itu yang semuanya terbuat dari kaca sehingga dia bisa sesekali melihat ke luar memandangi kendaraan yang lalu lalang.
“Teh, saya boleh ikut duduk disini” tanya seorang pria pada Wintang
“Ohiya silahka...” belum selesai kalimatnya, Wintang kaget ketika ia menengok ternyata pria itu adalah orang yang ia tatap tadi
“Eh Teteh yang tadi di rak depan itu ya?” sambung pria itu sembari duduk di bangku kosong didepan Wintang, kini hanya sebuah meja bulat yang ada diantara mereka berdua.
“Ah, iya betul” Wintang kikuk dibuatnya
“Kok saya berasa pernah kenal sama Teteh, ya?”
Belum apa-apa Wintang dibuat bingung kenal apaan, emang nya lo siapa?janga-jangan ini modus laki laki buaya darat lagi gumamnya dalam hati.
“Masa sih Mas? Kan baru ketemu saya sekarang”
“Ya saya juga gatau, Teh. Eh ini beneran saya boleh ikut duduk disini? Soalnya ini tempat duduk favorit saya disini”
Wintang langsung menepis pikiran jeleknya terhadap orang itu, mencoba untuk berprasangka baik.
“Iya Mas gapapa kok lagian itu kosong”
“Makasih ya, Teh”
Mereka hanya membaca dan melakukan aktivitasnya masing-masing seperti orang asing yang beretemu di tempat umum pada biasanya. Sampai salah satu dari mereka merasa tidak nyaman dan memulai percakapan lagi.
Lelaki itu melihat tumpukan buku fantasi milik Wintang diatas meja.
“Mmm Teh, suka cerita fantasi ya?”
Wintang tetaplah Wintang yang baik hati dan ramah juga mudah berteman.
“Ohiya mas, saya suka banget cerita fantasi. Kenapa? Mas nya juga?”
“Nggak sih Teh, saya gak punya selera buku, saya Cuma baca apa aja yang saya mau”
“Kok bisa ya, agak aneh Mas nya haha”
“Ya emang begitu Teh. Ngomong-ngomong Teteh asli Bandung bukan?”
“Bukan Mas, saya mahasiswa rantau”
“Oh Teteh nya mahasiswa juga.”
“Haha iya Mas”
Dalam hatinya, Wintang risih sekali dipanggil dengan sebutan Teteh oleh seseorang yang terlihat seumuran dengan nya itu. Panggilan khas sunda kepada perempuan itu dan logat yang mendayu sudah bisa membuat Wintang menebak bahwa lelaki ini pasti asli sunda.
“Semester berapa Teh?”
“Semester 6 Mas”
“Wah sama dong, ternyata kita seumuran.”
“Nah bagus! Jadi gausah panggil gue Teteh ya”
Lelaki itu kaget karena gaya bicara perempuan yang dari tadi dia ajak ngobrol langsung berbeda
“Wah haha kenapa gak bilang dari tadi, jangan panggil gue Mas juga ya”
Keduanya hanya tertawa kecil mengetahui tingkah yang dijaga satu sama lain terhadap orang yang belum dikenal, tapi ternyata bisa satu frekuensi.
“Yaudah yaudah berarti sepakat yak ngobrol santai nih kita” ucap lelaki itu
“Iya iya ini santai” jawab Wintang sambil tersenyum
“Gue belom tau nama lo malah, mahasiswa jurusan apa?”
“Gue Wintang Ardiyaksa, panggil aja Wintang. Gue jurusan Bahasa dan Sasta Indonesia”
“Wah anak bahasa emang suka baca-baca buku gini ya?”
“Gak juga sih, gua baca biar bisa nulis aja”
“Kenalin, gue Alfa Sena Tauri, mahasiswa Ilmu Keolahragaan” ucap nya sambil mengulurkan tangan yang tak disambut oleh Wintang.
Perempuan itu cukup kaget mendengar nama lelaki itu
“Alfa atau alpha?”
“Alfa ya bukan Alpha. Ini jabat tangan dulu biar resmi kenalan nya”
Wintang langsung menyambut uluran tangan Alfa. Pikiran nya masi terkaget kenapa lelaki itu punya nama mirip dengan nama sebuah bintang. Ya, bintang Alpha Centauri yang sangat ia sukai hingga ia pinjam namanya sebagai nickname nya. Sebuah nama yang memiliki begitu banyak cerita.
Tapi perempuan itu menepis pikirannya, ini hanyalah seorang lelaki biasa yang baru ia temuai hari itu. Tidak ada hubungan apapun dengan bintang kesukaannya atau apapun.
“Lo suka benda angkasa ya?” tanya Alfa menghentikan lamunan singkat Wintang
“Ah, iya. Kok lo tau?” perempuan ini sangat excited jika seseorang bertanya tentang hal itu
“Soalnya lo tanya nama gue Alfa atau Alpha, pasti kepikiran soal nama bintang”
Pikirannya tertebak oleh seorang lelaki yang ada dihadapannya. Tak peduli itu, Wintang senang jika mendapat seorang yang mengerti akan kesukaannya itu.
“Iya gue suka banget, sering baca soal benda luar angkasa atau ikutin ceritas fiksi nya, lo suka juga?”
“Mmm kayaknya sama kayak buku bacaan deh, ga ada hal yang gua favoritin gitu selain olahraga kayak nya haha”
“Yahh” Wintang sedikit kecewa
“Eh tapi lo bisa bagi cerita ga tentang itu? Gue seneng banget denger orang cerita tentang apa yang mereka suka. Gue jadi bayangin gimana rasanya punya hal yang disuka” lelaki itu sangat antusias meminta Wintang bercerita
“Serius? Gue seneng banget kalo ada tempat cerita. Haha gue bakal cerita sampe lo bosen ya” perasaannya kembali senang
Siang itu mereka habiskan dengan cerita Wintang tentang benda-benda angkasa yang ia sukai, tentang cerita-ceita fiksi mengenai bintang-bintang. Bahkan dari obrolan panjang itu ternyata mereka berdua adalah mahasiswa dari kampus yang sama. Benar kata Alfa, dia seperti mengenal Wintang sudah lama meskipun secara nyata ia baru bertemu dengan nya hari itu.
